Articles by "hakikat"
Showing posts with label hakikat. Show all posts
no image
1. Hakikat Keterampilan Menulis 
a. Pengertian Keterampilan Menulis 
Di sekolah dasar keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang ditekankan pembinaannya, disamping membaca dan berhitung. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ditegaskan bahwa siswa sekolah dasar perlu belajar bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis. Keterampilan menulis di sekolah dasar dibedakan atas keterampilan menulis permulaan dan keterampilan menulis lanjut. Keterampilan menulis permulaan ditekankan pada kegiatan menulis dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, menyalin, dikte, melengkapi cerita, dan menyalin puisi. Sedangkan pada keterampilan menulis lanjut diarahkan pada menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk percakapan, petunjuk, dan cerita. Aflah Cintya.2008. http://aflahchintya23.wordpress.com/2008/02/23/ salah satu contoh-ptk-dalambidang-bahasa. 7 191 Keterampilan menulis adalah keterampilan seseorang untuk menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Keterampilan menulis seseorang akan menjadi baik apabila dia juga memiliki: 
  • kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis,
  •  kepekaan terhadap kondisi pembaca, 
  • kemampuan menyusun perencanaan penelitian, 
  • kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, 
  • kemampuan memulai menulis, dan 
  • kemampuan memeriksa karangan sendiri. 
Kemampuan tersebut akan berkembang apabila ditunjang dengan kegiatan membaca dan kekayaan kosa kata yang dimilikinya. Ditinjau dari cara pemerolehannya, keterampilan menulis memang berbeda dengan keterampilan menyimak dan berbicara. Keterampilan menulis tidak diperoleh secara “alamiah”, tetapi harus dipelajari dan dilatihkan dengan sungguh-sungguh (Budinuryanta dkk, 1997: 12.1). Setiap orang memperoleh satu bahasa asli tahuntahun pertama dan kehidupannya, tetapi tidak setiap orang belajar membaca dan menulis (Raimes, 1983: 4). Untuk menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis harus memiliki tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan perwajahan. Keterampilan berbahasa mencakup keterampilan penggunaan ejaan, tanda baca, pembentukan kata, dan penggunaan kalimat efektif. Keterampilan penyajian meliputi keterampilan membentuk dan mengembangkan paragraf, merinci pokok bahasan dan sub pokok bahasan ke dalam susunan yang sistematis. Keterampilan perwajahan mencakup pengaturan topografi dan pemanfaatan sarana tulis secara efektif dan efisien (Atar Semi, 1990:2). Bertolak pada pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian keterampilan menulis yaitu kemampuan menyusun atau mengorganisasikan gagasan serta 7 192 mengkomunikasikan gagasan tersebut kepada pembaca sehingga terjalin interaksi antara keduanya demi tercapainya suatu tujuan. 

b. Pengertian Menulis 
Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa yang lain adalah menyimak, berbicara, dan membaca. Menurut Burhan Nurgiyantoro (1987: 27), menulis dapat dikatakan keterampilan yang paling sukar. Bila dilihat dari urutan pemerolehannya, keterampilan atau kemampuan menulis berada pada urutan terakhir setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Jika dilihat dari sudut aspek keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang bersifat aktif produktif. Bagi siswa usia Sekolah Dasar menulis lebih cenderung pada kemampuan daya pikir. Hal itu senada dengan Mulyati (1998: 244) menulis pada hakikatnya menyampaikan ide atau gagasan dan peran dengan menggunakan lambang grafis (tulisan). Gagasan atau pesan yang akan disampaikan bergantung pada perkembangan dan tingkatan pengetahuan serta daya nalar. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: 
  1. penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; 
  2. penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan 
  3. penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan. Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir.
 Keduanya saling melengkapi. Costa (1985: 103) mengemukakan bahwa menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama 193 dan berulang-ulang. Tulisan adalah wadah dan sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Dan melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis. (http://www.ralf.edu/bipa/jan 2003/efektivitas pengajaran menulis.html) diunduh tanggal 14 Januari 2009 pukul 16.00 WIB. Begitu juga pendapat Sri Harini Ekowati. Dalam pembelajaran menulis, proses penulisan perlu diperhatikan dengan melalui tahap pra penulisan, tahap penulisan dan tahap revisi. Jadi dalam kegiatan menulis proses ini perlu dicermati agar dapat menghasilkan tulisan yang baik. (Jurnal Penelitian Strategi Pembelajaran Menulis 2008: 25). The Liang Gie (2005b: 7) menyatakan bahwa buah pikiran yang dituangkan penulis dapat berupa pengalaman, pendapat, pengetahuan, dan perasaan. Hasil perwujudan bahasa tulis itu menjadi buah karya tulis yang berupa karangan apa saja termasuk di dalamnya menulis baik faktawi maupun fiksi, baik pendek yang hanya beberapa lembar maupun yang panjang sampai berjilid-jilid, baik dalam corak puisi maupun prosa. 

Menulis merupakan sebuah seni yaitu dalam menuangkan ide seorang pengarang ke dalam suatu tulisan itu bebas, sesuai dengan kreativitas dan daya seni seseorang. Kata seni mengandung arti “keahlian membuat karya yang bermutu atau kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi dan luar biasa. Menulis berarti menuangkan isi hati si penulis ke dalam bentuk tulisan, sehingga maksud hati penulis bisa diketahui banyak orang melalui tulisan yang dituliskan. Kemampuan seseorang dalam menuangkan isi hatinya ke dalam sebuah tulisan sangatlah berbeda dipengaruhi oleh latar belakang penulis. Dengan demikian mutu atau kualitas tulisan setiap penulis berbeda pula satu sama lain, tergantung dari keahlian dan daya kreativitas seseorang dalam menuangkan gagasannya menjadi 194 tulisan. (http://pelitaku-sabda-org/menulis seni mengungkapkan hati) diunduh pada tanggal 8 November 2008 pukul 16.00 WIB. Kegiatan menulis merupakan suatu keterampilan produktif dalam pembelajaran bahasa, karena kegiatan tersebut lebih banyak menekankan pada penuangan ide dan gagasan dalam bentuk kata-kata, susunan kalimat, dan menjadi suatu gagasan alenia. 

Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut. (Tarigan, 1985 : 21). Pendapat tersebut menunjukkan bahwa dengan tulisan dapat terjadi komunikasi antara penulis dan pembaca; hal ini dapat terjadi apabila penulis dan pembaca memahami lambanglambang grafik yang digunakan penulis. Siswa dapat memberikan kejelasan kepada pemakainya maka harus mampu menyusun kalimat yang serasi. Kalimat-kalimat yang terdapat dalam tulisan tersebut harus disusun secara tepat agar tercipta keserasian hubungan antar unsur dalam sebuah karangan. Hal ini terdapat dalam tulisan siswa dan bagian-bagiannya harus merupakan hubungan yang logis. Menulis dalam bentuk apapun sebenarnya melatih penulis berpikir secara teratur, tertib dan lugas. Diketahui juga ada hubungan timbal balik antara pikiran dan bahasa. Pikiran sebenarnya dapat dinyatakan sebagai suatu mental bahasa yang terdiri atas lambang-lambang atau tanda-tanda yang istimewa. Pendapat lain mengatakan bahwa pikiran dapat disejajarkan dan ditafsirkan sebagai aktivitas jiwa. Oleh karen itu, semakin teratur pikiran seseorang diharapkan semakin teratur diharapkan semakin teratur pula susunan kalimat yang dinyatakannya. Keteraturan-keteraturan memerlukan latihan berulang-ulang. 

Latihan menuntut keteraturan, keuletan, 195 kepekaan, dan kemampuan menerapkan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Ada syarat yang sering dilupakan karena kesederhanaannya, yaitu setiap kali selesai menulis harus disertai pertanyaan kepada diri sendiri ‘apakah tulisan saya ini dapat dibaca dan dipahami orang lain?’. Sehubungan dengan hal tersebut, sebelum tulisan dibaca oleh orang lain, sebaiknya dibaca sekali lagi. Tarigan (1992 : 4) menyatakan bahwa antar penulis dan pembaca terdapat hubungan yang sangat erat. Bila kita menuliskan sesuatu, pada prinsipnya kita ingin agar tulisan tersebut dibaca oleh orang lain. Tugas penulis adalah mengatur dan menggerakkan suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan tertentu dalam bayangan sang pembaca. Menulis pada hakikatnya adalah suatu proses berpikir yang teratur, sehingga apa yang ditulis mudah dipahami pembaca (Fachudin, 988 : 12). Sebuah tulisan dikatakan baik apabila memiliki ciri-ciri: (a) bermakna, (b) jelas, (c) bulat dan utuh, (d) ekonomis, dan (e) memenuhi kaidah gramatika. Pengertian-pengertian tersebut di atas tidak mempersoalkan apakah pikiran atau ide yang ditulis dapat dipahami oleh seseorang atau tidak. Padahal setiap tulisan harus mengandung makna sesuai dengan pikiran, perasaan, ide dan emosi penulis yang disampaikan kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud penulis Widyamartaya (1990: 9) berpendapat bahwa menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca seperti yang dimaksud oleh pengarang. 

Sementara itu Burhan Nurgianto (1988 : 271) berpendapat, agar komunikasi lewat lambang tulis dapat dicapai seperti yang diharapkan penulis, hendaknya menuangkan ide atau gagasannya ke dalam bahasa yang tepat dan teratur serta lengkap, dengan 196 demikian bahasa yang dipergunakan dalam menulis dapat menggambarkan suasana hati atau pikiran penulis, sehingga dengan bahasa tulis seseorang akan dapat menuangkan isi hati dan pikiran. Dalam menulis seorang dituntut mampu menerapkan sejumlah keterampilan sekaligus. Sebelum menulis perlu membuat perencanaan, misalnya, menyeleksi topik, menata, dan mengorganisasikan gagasan, serta mempertimbangkan bentuk tulisan sesuai dengan calon pembacanya. Pada saat menungkan ide, penulis perlu menyajikannya secara teratur. Begitu juga penggunaan aspek kebahasaan seperti bentukan kata, diksi, dan kalimat perlu disusun secara efektif. Penerapan ejaan dan tanda baca perlu dilakukan secara tepat dan fungsional. Sejumlah keterampilan tersebut menjadi bukti betapa kompleksnya keterampilan menulis (http://aflahchintya23.wordpress.com/2008/ 02/23/salah-satu-contoh-ptk-dalambidang-bahasa/ ). Menurut Lado (1979: 143) adalah menurunkan atau menuliskan lambanglambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membacanya jika dia memahami bahwa atau gambaran grafik tersebut. 

Pendapat lain mengatakan bahwa menulis merupakan kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan atau menyampaikannya melalui bahasa tulis (Widyamartaya, 1990: 9). Pujiati dan Rahmina (1997: 1) berpendapat menulis merupakan kegiatan menyusun atau mengorganisasikan buah pikiran, ide, atau gagasan dengan menggunakan rangkaian kalimat yang logis dan terpadu dalam bahasa tulis. 197 The Liang Gie (1992: 17) mamberi batasan, mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Menulis dan membaca berkaitan dengan ekspresi bahasa yang menggunakan media visual, dan termasuk keterampilan aktif atau produktif (Widdowson: 1978: 57). Berbeda dengan kegiatan berbicara dan mendengarkan yang termasuk kegiatan resiprokal, menulis dan membaca secara umum tergolong kegiatan nonresiprokal. Memang ada kegiatan menulis dan membaca yang mirip kegiatan berbicara dan mendengarkan seperti korespondensi, tetapi interaksi yang terjadi sangat berbeda dan dalam kurun waktu yang tidak bersamaan. 

Dalam hal ini Widdowson mengatakan, “In most written discourse, however, this interrelationship does not exist: reading and writing are not typically reciprocal activities in the same way as are saying and listening.” (Widdowson, 1978: 61). Kegiatan menulis adalah kegiatan berkomunikasi. Menurut Imam Syafi’ie (1993: 57) komponen pertama adalah pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim pesan (penulis) dan penerima pesan (pembaca). Komponen ketiga adalah media penyampai komunikasi (bahasa). Komponen berikutnya adalah saluran, yang dapat berupa surat, artikel, makalah, buku, dan sebagainya. Senada dengan Imam Syafi’ie adalah pendapat (Sopa, 2005) yang dikutip oleh Pangesti Wiedarti (2005: 136) menyatakan menulis adalah cara seseorang berkomunikasi. Melalui tulisan seseorang berusaha menyampaikan gagasan, ide, pendapat, dan informasi kepada orang lain. Pandangan lain tentang menulis juga dikemukakan oleh Brown. Menurut Brown (2001: 335) menulis adalah gambaran grafis dari bahasa lisan, dan bahasa tertulis sama saja dengan bahasa lisan, satu-satunya perbedaan terletak pada lambang 198 grafis daripada isyarat lain. Imam Syafi’ie (1993: 52-53) menyebutkan tulisan adalah simbol-simbol atau gambar bunyi-bunyi bahasa yang bersifat visual. Keterampilan menulis adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis. Jika dibaca dengan seksama pendapat di atas dapat diketahui bahwa ada dua hal pokok yang terdapat dalam kegiatan menulis, yaitu 
  1. gagasan yang dikemukakan penulis dan 
  2. bahasa yang digunakan sebagai media untuk mengungkapkan gagasan tersebut. 
Pada hakikatnya menulis adalah mengkomunikasikan “apa” dan “bagaimana” pikiran penulis. Hal pertama bertalian dengan substansi persoalan atau gagasan yang dikemukakan; sedangkan hal kedua bertalian dengan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan gagasan. Kemampuan menulis atau mengarang pada hakikatnya merupakan bentuk komunikasi dari pengarang kepada pembaca agar dapat berkomunikasi dengan baik, seorang penulis harus memiliki beberapa kemampuan, satu diantaranya adalah kemampuan linguistik (atau kemampuan gramatikal) yaitu pengetahuan mengenai kaidah-kaidah kebahasaan (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni 2005: 51). Menulis tidak selalu mudah. Dalam menulis, orang tidak dapat menggunakan bahasa atau gerak tubuh, intonasi, nada, kontak mata dan semua ciri lain yang dapat membantu orang menangkap makna seperti dalam bercakap-cakap. 

Dalam kutipan ini Scott dan ytreberg antara lain menyatakan, “You can’t make the same use of body language, intonation, tone, eye contact and all the other features which help you to convey meaning when you talk,” (Scott and Ytreberg, 1990: 68). Ann Raimes juga mengemukakan, berbicara (Bahasa lisan) memiliki variasi dialek, suara (nada, tekanan, dan irama) dan gerakan tubuh (gesture dan ekspresi wajah), jeda dan intonasi, serta pendengarannya ada di tempat pembicara sehingga dapat memberi 199 respon secara langsung; sedangkan menulis pada umumnya menggunakan bentukbentuk standar (tata bahasa, sintaksis, kosa kata), menyandarkan pada kata-kata di atas kertas, dan mengandalkan pungtuasi dan pembaca tidak di tempat sehingga tidak ada respon secara langsung (Raimes, 1983: 4-5). Tanpa meremehkan tiga keterampilan berbahasa yang lain, menulis merupakan keterampilan berbasaha yang paling penting dan sulit dikuasai, pendapat itu dikemukakan oleh Ari Kusmiatun, yang dikutip Pangesti Wiedarti (2005:133). Menulis tidak semudah membaca. Untuk memperoleh keterampilan menulis, diperlukan suatu proses yang berupa pembelajaran dan pelatihan menulis. 

Pembelajaran dan pelatihan menulis guna mengatasi kesulitan menulis. Kesulitan menulis yang dihadapi, yaitu kesulitan menemukan topik, kesulitan mencari atau menemukan bahan penulisan, kesulitan menyusun kalimat efektif, kesulitan menyusun paragraf yang baik, dan kurang menguasai tata cara menulis (Pangesti Wiedarti, 2005: 20-28). Berbeda dengan pendapat di atas, Arswendo Atmowiloto (2004: vii) menyatakan mengarang itu gampang, karena bisa dipelajari. Semua bisa mempelajarinya asal bisa baca dan tulis dan mempunyai minat terus menerus yang tak mudah patah. Membangun komunitas tulis menurut Sudartomo M, yang dikutip oleh Pangesti Wiedarti (2005: 9-12) adalah dengan mengajak anak untuk menuliskan fenomena yang dekat dengan anak termasuk pengalamannya sendiri yang pasti dikuasai. Pengalaman ini dituangkan ke dalam bentuk puisi atau surat. Isi surat berupa pengalaman yang dialami oleh anak masing-masing. Pengalaman yang menyenangkan, mengesalkan, menakutkan, atau menyedihkan. Selain itu, anak diajak menulis buku harian, dan korespondensi. 200 Orang menulis mempunyai maksud dan tujuan yang bermacam-macam, misalnya memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur atau menyenangkan, dan mengutarakan atau mengekspresikan maksud emosi (Tarigan, 1986: 23). 


Meskipun tujuan menulis sangat beragam, Heart dan Reinking berpendapat, tujuan umum menulis hanya ada dua yaitu menginformasikan (to inform) dan meyakinkan (to persuaea). Akan tetapi mereka berpendapat, setiap tulisan tentu mempunyai sebuah tujuan yang lebih spesifik. Mereka menyatakan , “ ... each written work must have a more specific purpose,” (Heart dan Reinking, 1986: 3). The Liang Gie juga berpendapat bahwa tujuan orang mengarang pada dasarnya ada dua tipe, akan tetapi pendapat The Liang Gie berbeda dengan pendapat Heart dan Reinking tersebut, karena menurutnya dua tipe tujuan mengarang itu adalah (1) memberi informasi, memberikan sesuatu, dan (2) memberi hiburan , menggerakkan hati (The Liang Gie, 1992: 24). Tulisan bermanfaat untuk mempengaruhi orang, sebagai sarana berbagi pengalaman, mampu membebaskan dari penderitaan, dapat menggulingkan sebuah rezim, mencegah perang, membangkitkan semangat hidup, menyelamatkan nyawa, dapat mengasah otak, dan dapat mendatangkan rezeki. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian menulis adalah kegiatan mengungkapkan ide atau gagasan dengan bahasa tulis. Sedangkan pengertian keterampilan menulis, yaitu kemampuan menyusun atau mengorganisasikan gagasan serta mengkomunikasikan gagasan tersebut kepada pembaca sehingga terjalin interaksi antara keduanya demi tercapainya suatu tujuan. c. Jenis-Jenis Tulisan 201 Menurut Gie (2002: 25-30) dalam Pangesti Wiedarti (2005: 20) tulisan dapat digolongkan menjadi beberapa jenis berdasarkan kriteria tertentu. Berdasarkan bentuknya, tulisan dapat digolongkan menjadi: cerita (narasi), lukisan (deskripsi), paparan (eksposisi) dan bincangan (argumentasi). Menurut ragamnya, tulisan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tulisan faktawi (faktual) dan tulisan khayali. 

Tulisan faktawi adalah tulisan yang bertujuan memberi informasi, memberitahukan sesuatu sesuai dengan fakta senyatanya, sedangkan tulisan khayali adalah tulisan yang bertujuan memberi hiburan, menggugah hati pembaca, dan merupakan rekaan dari pengarang. Selanjutnya, berdasarkan pengetahuan atas tujuan penulis, dapat diketahui bentuk tulisan dari sebuah naskah (tulisan). Pada umumnya, tulisan dapat dikelompokkan atas empat macam bentuk, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi dan argumentasi. Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Akan tetapi, narasi dapat juga ditulis berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa. 

Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sifat, rasa, corak, dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilakukan untuk melukiskan perasan, seperti bahagia, takut, sepi, sedih dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan panca indera dalam proses penguraiannya. Deskripsi yang baik harus didasarkan pada pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi 202 pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya, deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk tulisan lainnya. Bentuk tulisan eksposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena memberikan informasi. Tulisan dalam majalah juga merupakan eksposisi. Buku teks merupakan bentuk eksposisi. Pada dasarnya, eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu. Tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Laras yang termasuk dalam bentuk tulisan eksposisi adalah buku resep, buku-buku pelajaran, buku teks, dan majalah. Tulisan bentuk argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar pendapat pribadi penulis dapat diterima. Bentuk tulisan tersebut erat kaitannya dengan eksposisi dan ditunjang oleh deskripsi. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik. Salisbury mengelompokkan tulisan ke dalam dua kelompok, yaitu 
  • bentukbentuk objektif, yang mencakup penjelasan yang terperinci mengenai proses, batasan, laporan dan dokumen dan 
  • bentuk-bentuk subjektif yang mencakup otobiografi, surat-surat, penilaian pribadi, esai, informal, potret/gambaran, dan satire (Tarigan, 1986: 26-27). 
Weaver dan Moris et al. Membuat klasifikasi yang hampir sama. Weaver (dalam Tarigan, 1986: 27) mengklasifikasikan tulisan dalam empat jenis yaitu 
  • eksposisi, 
  • deskripsi, 
  • narasi, dan 
  • argumentasi. 
Demikian juga Moris et al 203 (dalam Tarigan 1986: 27-28) juga membagi tulisan dalam empat jenis yaitu 
  • eksposisi, 
  • argumentasi, 
  • deskripsi, dan 
  • narasi. 
Klasifikasi tulisan Brooks dan Warren juga ada empat jenis tetapi berbeda dengan Weaver dan Moris. Brooks dan Warren mengklasifikasikan tulisan ke dalam;
  • eksposisi, 
  • persuasi,
  • argumen, dan 
  • deskripsi (Tarigan, 1986: 28). 
Gorys Keraf (1994: 1) menyebutkan ragam komposisi atau bentuk-bentuk wacana meliputi eksposisi, argumentasi, deskripsi, dan narasi. Atar Semi (1990: 32) berpendapat demikian pula hanya berbeda urutannya, yakni narasi, eksposisi, deskripsi,dan argumentasi. Adelstain dan Pival membuat klasifikasi tulisan yang berbeda. Mereka membuat klasifikasi tulisan berdasarkan nada (voice). Berdasarkan nada terdapat enam jenis tulisan yakni 
  1. tulisan bermakna akrab, 
  2. tulisan bernada informatif, 
  3. tulisan bernada menjelaskan, 
  4. tulisan bernada argumentatif, 
  5. tulisan bernada mengkritik, dan 
  6. tulisan bernada otoritatif (Tarigan 1986: 28-29). 
Jika dibaca dengan seksama beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa ada dua hal pokok yang terdapat dalam kegiatan menulis yaitu (1) gagasan yang dikemukakan penulis dan (2) bahasa yang digunakan sebagai media untuk mengungkapkan gagasan tersebut. 
d. Pembelajaran Menulis Flower dan Hayes (lewat Tompkins, 1990: 71) mengembangkan model proses dalam menulis. Proses menulis dapat dideskripsikan sebagai proses pemecahan masalah yang kompleks, yang mengandung tiga elemen, yaitu lingkungan tugas, memori jangka panjang penulis, dan proses menulis. Pertama, lingkungan tugas adalah tugas yang penulis kerjakan dalam menulis. Kedua, memori jangka panjang penulis adalah pengetahuan mengenai topik, pembaca, dan cara menulis. Ketiga, 204 proses menulis meliputi tiga kegiatan, yaitu: 
  1. merencanakan (menentukan tujuan untuk mengarahkan tulisan), 
  2. mewujudkan (menulis sesuai dengan rencana yang sudah dibuat), dan
  3.  merevisi (mengevaluasi dan merevisi tulisan). 
Ketiga kegiatan tersebut tidak merupakan tahap-tahap yang linear, karena penulis terus menerus memantau tulisannya dan bergerak maju mundur (Zuchdi, 1997: 6). Peninjauan kembali tulisan yang telah dihasilkan ini dapat dianggap sebagai komponen keempat dalam proses menulis. Hal inilah yang membantu penulis dapat mengungkapkan gagasan secara logis dan sistematis, tidak mengandung bagianbagian yang kontradktif. Dengan kata lain, konsistensi (keajegan) isi gagasan dapat terjaga. Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis. (Tompkins 1990, 73) menyajikan lima tahap, yaitu: (
  • pramenulis, 
  • pembuatan draff, 
  • merevisi, 
  • menyunting, dan 
  • berbagi (sharing). 
Tompkins juga menekankan bahwa tahaptahap menulis ini tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draff awalnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi. Dengan demikian, tergambar secara menyeluruh proses menulis, mulai awal sampai akhir menulis seperti berikut. 
1. Tahap Pramenulis Pada tahap pramenulis, pembelajar melakukan kegiatan sebagai berikut: 
  • Menulis topik berdasarkan pengalaman sendiri. 
  • Melakukan kegiatan-kegiatan latihan sebelum menulis. 
  • Mengidentifikasi pembaca tulisan yang akan mereka tulis. 
  • Mengidentifikasi tujuan kegiatan menulis. 205
  • Memilih bentuk tulisan yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah mereka tentukan. 
2. Tahap Membuat Draff Kegiatan yang dilakukan oleh pembelajar pada tahap ini adalah sebagai berikut : 
  • Membuat draff kasar. 
  • Lebih menekankan isi daripada tata tulis. 
3. Tahap Merevisi 
Yang perlu dilakukan oleh pembelajar pada tahap merevisi tulisan ini adalah sebagai berikut : 
  • Berbagai tulisan dengan teman-teman (kelompok). 
  • Berpartisipasi secara konstruktif dalam diskusi tentang tulisan teman-teman sekelompok atau sekelas. 
  • Mengubah tulisan mereka dengan memperhatikan reaksi dan komentar baik dari pengajar maupun teman. 
  • Membuat perubahan yang substantif pada draff pertama dan draff berikutnya, sehingga menghasilkan draff akhir. 
4. Tahap Menyunting 
Pada tahap menyunting, hal-hal yang perlu dilakukan oleh pembelajar adalah sebagai berikut : a. Membetulkan kesalahan bahasa tulisan mereka sendiri. b. Membantu membetulkan kesalahan bahasa dan tata tulis tulisan mereka sekelas/sekelompok. c. Mengoreksi kembali kesalahan-kesalahan tata tulis tulisan mereka sendiri. 206 Dalam kegiatan penyuntingan ini, sekurang-kurangnya ada dua tahap yang harus dilakukan. Pertama, penyuntingan tulisan untuk kejesalan penyajian. Kedua, penyuntingan bahasa dalam tulisan agar sesuai dengan sasarannya (Rifai, 1997: 105- 106). Penyuntingan tahap pertama akan berkaitan dengan masalah komunikasi. Tulisan diolah agar isinya dapat dengan jelas diterima oleh pembaca. Pada tahap ini, seringkali penyunting harus mereorganisasi tulisan karena penyajiannya dianggap kurang efektif. Ada kalanya, penyunting terpaksa membuang beberapa paragraf atau sebaliknya, harus menambahkan beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf untuk memperlancar hubungan gagasan. Dalam melakukan penyuntingan pada tahap ini, penyunting sebaiknya berkonsultasi dan berkomunikasi dengan penulis. Pada tahap ini, penyunting harus luwes dan pandai-pandai menjelaskan perubahan yang disarankannya kepada penulis karena hal ini sangat peka. 

Hal-hal yang berkaitan dengan penyuntingan tahap ini adalah kerangka tulisan, pengembangan tulisan, penyusunan paragraf, dan kalimat. Kerangka tulisan merupakan ringkasan sebuah tulisan. Melalui kerangka tulisan, penyunting dapat melihat gagasan, tujuan, wujud, dan sudut pandang penulis. Dalam bentuknya yang ringkas itulah, tulisan dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, dan tidak secara lepas-lepas (Keraf, 1989: 134). Penyunting dapat memperoleh keutuhan sebuah tulisan dengan cara mengkaji daftar isi tulisan dan bagian pendahuluan. Jika ada, misalnya, dalam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, sebaiknya bagian simpulan pun dibaca. Dengan demikian, penyunting akan memperoleh gambaran awal mengenai sebuah tulisan dan tujuannya. Gambaran itu. Kemudian diperkuat dengan membaca secara keseluruhan isi tulisan. Jika tulisan merupakan karya fiksi, misalnya, penyunting langsung membaca keseluruhan karya 207 tersebut. Pada saat itulah, biasanya penyunting sudah dapat menandai bagian-bagian yang perlu disesuaikan. Berdasarkan kerangka tulisan tersebut dapat diketahui tujuan penulis. Selanjutnya, berdasarkan pengetahuan atas tujuan penulis, dapat diketahui bentuk tulisan dari sebuah naskah (tulisan). Pada umumnya, tulisan dapat dikelompokkan atas empat macam bentuk, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. 

Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi biasanya ditulis berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa. Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sirat, rasa, corak dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilakukan untuk melukiskan perasaan, seperti bahagia, takut, sepi, sedih, dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan pancaindera dalam proses penguraiannya. Deskripsi yang baik harus didasarkan pada pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya, deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk tulisan lainnya. Bentuk tulisan eskposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena memberikan informasi. Tulisan dalam majalah juga merupakan eksposisi. Buku teks merupakan bentuk eksposisi. Pada dasarnya, eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, 208 menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu. 

Tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Laras yang termasuk dalam bentuk tulisan eksposisi adalah buku resep, buku-buku pelajaran, buku teks, dan majalah. Bentuk tulisan argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar pendapat pribadi penulis dapat diterima. Bentuk tulisan tersebut erat kaitannya dengan eksposisi dan ditunjang oleh deskripsi. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik. Kalimat topik, biasanya merupakan sebuah pernyataan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam sebuah majalah atau surat kabar, misalnya, argumentasi ditemui dalam kolom opini/ wacana/ gagasan/ pendapat. Kendatipun keempat bentuk tulisan tersebut memiliki ciri masing-masing, mereka tidak secara ketat terpisah satu sama lain. Dalam sebuah kolom, misalnya, dapat ditemukan berbagai bentuk tulisan tersebut tersebar di dalam paragraf yang membangun kerangka tersebut. Oleh karena itu, penyunting befungsi untuk mempertajam dan memperkuat pembagian paragraf. Pembagian paragraf terdriri atas paragraf pembuka, paragraf penghubung atau isi, dan paragraf penutup seringkali tidak diketahui oleh penulis. Masih sering ditemukan tulisan yang sulit dipahami karena pemisah bagian-bagian atau pokok-pokoknya tidak jelas. Pemeriksaan atas kalimat merupakan penyuntingan tahap pertama juga. 

Pada ini pun, sebaiknya penyunting berkonsultasi dengan penulis. Penyunting harus memiliki pengetahuan bahasa yang memadai. Dengan demikian, penyunting dapat menjelaskan dengan baik kesalahan kalimat yang dilakukan oleh penulis. Untuk itu, penyunting kalimat harus menguasai persyaratan yang tercakup dalam kalimat yang 209 efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang secara jitu atau tepat mewakili gagagan atau perasaan penulis. Untuk dapat membuat kalimat yang efektif, ada tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu kesatuan gagasan, kepaduan, penalaran, kehematan atau ekonomisasi bahasa, penekanan, kesejajaran, dan variasi. Penyuntingan tahap kedua berkaitan dengan masalah yang lebih terperinci, lebih khusus. Dalam hal ini, penyunting berhubungan dengan masalah kaidah bahasa, yang mencakup perbaikan dalam kalimat, pilihan kata (diksi), tanda baca, dan ejaan. Pada saat penyunting memperbaiki kalimat dan pilihan kata dalam tulisan, ia dapat berkonsultasi dengan penulis atau langsung memperbaikinya. Hal ini tergantung pada keluasan permasalahan yang harus diperbaiki. Sebaliknya, masalah perbaikan dalam tanda baca dan ejaan dapat langsung dikerjakan oleh penyunting tanpa memberitahukan penulis. Perbaikan dalam tahap ini bersifat kecil, namun sangat mendasar. 

5. Tahap Berbagi 
Tahap terakhir dalam proses menulis adalah berbagi (sharing) atau publikasi. Pada tahap ini, pembelajar :
  •  Mempublikasikan (memajang) tulisan mereka dalam bentuk tulisan yang sesuai, atau 
  • Berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan. 
Dari tahap-tahap pembelajaran menulis dengan pendekatan/model proses sebagaimana dijabarkan di atas dapat dipahami betapa banyak dan bervariasi kegiatan pembelajar dalam proses menulis. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut sudah barang tentu merupakan pelajaran yang sangat berharga guna mengembangkan keterampilan menulis. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pembelajar pada setiap tahap, upaya-upaya mengatasi kesulitan tersebut, dan hasil terbaik yang dicapai oleh 210 para pembelajar membuat mereka lebih tekun dan tidak mudah menyerah dalam mencapai hasil yang terbaik dalam mengembangkan keterampilan menulis.
no image
Hakikat Minat Menulis 
Pengertian Minat 
Minat adalah perasaan tertarik dan keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Makin kuat atau makin dekat hubungan tersebut makin besar minat (Jurnadi, 1989: 156). Lebih lanjut Jurnadi menyatakan bahwa minat siswa biasa diekspresikan melalui pertanyaan yang menunjukkan bahwa siswa lebih tertarik suatu objek daripada objek lain. Dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang berminat terhadap objek tertentu cenderung menaruh perhatian lebih besar terhadap objek tersebut. Sementara itu Noehi Nasution (1993: 7) menjelaskan bahwa minat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik. 7 235 Sebaliknya kalau seseorang belajar dengan penuh minat maka dapat diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. The Liang Gie (2005a: 28) minat berarti sibuk, tertarik atau terlibat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Jadi minat adalah keterlibatan seseorang dengan segenap kesadaran secara penuh. Senada dengan pendapat di atas Tidjan (1997: 71) mengemukakan minat adalah gejala psikis yang menunjukkan pemusatan perhatian terhadap suatu objek. Dengan minat yang tinggi suatu kegiatan akan memperoleh prestasi yang baik, karena kegiatan yang dilakukan akan selalu disertai dengan perhatian yang tinggi dan dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Minat mempunyai karakteristik pokok yaitu melakukan kegiatan yang dipilih sendiri dan menyenangkan sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan dalam diri seseorang. Minat dan motivasi memiliki hubungan dengan segi kognisi namun minat lebih dekat pada perilaku. Muhammad Afzan Abadi 2009. http://almaipii.multiply.com/journal/item/4 diunduh tanggal 29 April 2009 pukul 15.59. Minat dapat ditimbulkan dengan cara membangkitkan suatu kebutuhan, menghubungkan dengan pengalaman lampau, memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. http://creasoft.files.wordspress.com/2008/ 04/2minat.pdf. diunduh 29 April 2009 pukul 15.41. Berpijak pada beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah perasaan tertarik atau senang terhadap suatu objek tanpa ada unsur pemaksaan dari orang lain. b. Pengertian Minat Menulis 236 Menurut Slameto (2003: 180) berpendapat minat menulis adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh minat menulis pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan, semakin besar minat. Minat menulis tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi penerimaan minat-mnat baru. Jadi, minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. 

Hilgard dalam Slameto (2003: 57) menyatakan minat menulis adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian karena perhatian sifatnya sementara, tidak dalam waktu yang lama dan belum tentu diikuti rasa senang, sedangkan minat selalu diikuti perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan. Minat menulis besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajarinya tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tariknya. Ia segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar. Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu. Mengembangkan minat menulis terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan 237 pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, memuaskan kebutuhankebutuhannya. 

Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa basil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat (dan bermotivasi) untuk mempelajarinya. Di samping menggunakan minat-minat yang telah ada, Tanner dan Tanner dalam Slameto (2003: 181) menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minatminat baru pada diri siswa ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang datang. Rooijakkers dalam Slameto (2003: 181) berpendapat hal ini dapat pula dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita yang sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa. Bila usaha-usaha di atas tidak berhasil, pengajar dapat memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pengajaran. Insentif merupakan alat yang, dipakai untuk membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau yang tidak dilakukannya dengan baik. 

Diharapkan pemberian insentif akan membangkitkan motivasi siswa dan mungkin minat terhadap bahan yang akan diajarkan akan muncul. Studi-studi eksperimental menunjukkan bahwa siswa-siswa yang secara teratur dan sistematis diberi hadiah karena telah bekerja dengan baik atau karena perbaikan dalam kualitas pekerjaannya, cenderung bekerja lebih baik daripada siswa-siswa yang dimarahi atau dikritik karena pekerjaannya yang buruk atau karena tidak ada kemajuannya. Menghukum siswa karena hasil kerjanya yang buruk tidak terbukti efektif, bahkan hukuman yang terlalu kuat dan sering lebih menghambat belajar. Tetapi hukuman yang ringan masih lebih baik daripada tidak ada perhatian sama sekali. Hendaknya 238 pengajar bertindak bijaksana dalam menggunakan insentif. Insentif ap pun yang dipakai perlu disesuaikan dengan diri siswa masing-masing. Berdasarkan pada pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat menulis adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu aktivitas dan aktivitas tersebut dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan. Minat yang besar akan menimbulkan dorongan untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. Minat juga berarti sibuk, aktif, dan terlibat sepenuhnya dalam suatu kegiatan.
no image
2. Hakikat Pendekatan Kontekstual 
a. Pengertian Pendekaan Kontekstual 
Menurut Nurhadi bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi 2002: 1) Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu merke memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Hasilnya diharapkan lebih bermakna dan bermanfaat. (http://www,google,co,id/search?hl:id&q:pendekatan kontekstual and bt). diunduh tanggal 18 Januari 2008 pukul 10.00 WIB. 211 Peran guru di kelas dengan pendekatan kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya, guru harus memikirkan strategi pembelajaran daripada beceramah di kelas untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk inovasi-inovasi baru bagi siswa dengan cara menemukan sendiri bukan datang dari guru. Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga tercapai tujuan pendidikan nasional. (http://www:padang ekspres.co.id/content(view/7745/129). Diunduh tanggal 18 Januari 2008 pukul 10.00 WIB. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari “menemukan sendiri” bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran seperti pembelajaran yang lain. Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berlajan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. (Depdiknas 2008, Pembelajaran Kontekstual http://akhmad sudrajat.wordpress.com/ 2008/01/29/ pembelajaran -kontekstual Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi strategi belajar. 

Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan 212 siswa. Sebuah strategi belajar yang mendorong siswa mengkonstrusikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Melalui landasan filosofi kontruktivisme, Contextual Teaching and Learning (CTL) dipromosikan menjadi alternatif strategi pembelajaran yang baru. Melalui strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Knowledge is constukcted bu humans. Knowledge is not a set of facts, conceptc, or laws waiting to be discovered. It is not something that exist independent of a knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their experience. Everything that we know, we have made (Zahorik, 1995). Knowledge is konjectural and fallible. Since knowledge is a construction of humans constanly undergoing new experiences, knowledge can never by stable. The understandings that we invent are always tentative and incomplete. Knowledge is growing through exposure. Understand becomes deeper and stronger if one test is againt new encounters (Zahorik, 1995). Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. 
  1. proses belajar, 
  2. transfer belajar, 
  3. siswa sebagai pembelajar, 
  4. pentingnya lingkungan belajar, 
  5. hakikat pembelajaran kontekstual, 
  6. motto, 
  7. kata-kata kunci pembelajaran CTL, dan 
  8. lima eleman belajar yang konstruktivistik. 
Yang dimaksud dengan proses belajar adalah belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak belajar mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru dan bukan diberi begitu saja dari guru. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan baru yang dimiliki oleh seseorang yang terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter). Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. Proses belajar dapat mengubah struktur 213 otak. Perubahan struktur otak itu berjalan seiring perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus digunakan akan mempengaruhi struktur otak yang pada akhirnya mempengaruhi cara orang berperilaku. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Transfer belajar siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain. 

Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit. Yang penting bagi siswa tahu untuk apa ia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu. Siswa sebagai pembelajar. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi untuk hal-hal yang sulit strategi belajar amat penting. Peran guru membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Pentingya lingkungan belajar. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton siswa akting, bekerja dan berkarya guru mengarahkan. Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. 214 Hakikat pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual ( Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkannya dalam tujuh komponen utama pembelajaran afektif yaitu: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inkuiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Nurhadi 2005: 105). Sejalan dengan pendapat tersebut Whitelegg dan Parry dalam Sumarwati dan Suyatmi menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu dosen / guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata mahasiswa / siswa dan mendorong mereka membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menjalankan profesinya (Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya, 2007: 54) Motto pembelajaran kontekstual “Student learn best by actively constructing their own understanding (CTL Academy Fellow, 1999 dalam Nurhadi, 2005: 105)(cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya). Kata-kata kunci pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL): (1) real world learning, (2) mengutamakan pengalaman nyata, (3) berpikir tingkat tinggi, (4) berpusat pada siswa, (5) siswa aktif kritis dan kreatif, (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (7) dekat dengan kehidupan nyata, (8) perubahan perilaku, (9) siswa praktik bukan menghafal, (10) learning bukan teaching, (11) pendidikan 215 (education) bukan pengajaran (instruction), (12) pembentukan manusia, (13) memecahkan masalah, (14) siswa akting guru mengarahkan bukan guru akting siswa menonton, (15) hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes. (Nurhadi, 2005: 105-106). Strategi pengajaran yang berasosiasi dengan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah cara belajar siswa aktif, pendekatan proses, life skill education, authentik instruction, inquiry based learning, cooperatif learning dan service learning. Lima eleman belajar yang konstruktivistik, menurut Zahorik dalam E.Mulsa, (2006: 138) (1) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), (2) pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya, (3) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) yaitu dengan cara menyusun (a) konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan, (4) mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), dan (5) melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. (Elaine B. Johnson dalam bukunya “Contextual Teaching and Learning” memberi definisi CTL sebagai berikut : “The CTL system is an educational process that aims to help student see meaning in the academic material there are studying by concing academic subjects the with the context their daily lives, that is with the context of their personal, social, and cultural circumstances. To archieve this aim, the system encompasses the following eight component: making meaningful connections, doing significant work, 216 self-regulative learning, reaching high standards, using authentic assessment” (Elaine B. Johnson, 2006: 67). Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademi yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut : membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pekerjaan yang diatur sendiri, melakukan kerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi dan menggunakan penilaian autentik. CTL adalah sitem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang terselubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Seperti halnya biola, cello, clarinet, dan alat musik yang lain dalam sebuah orkestra yang menghasilkan bunyi yang berbeda-beda yang secara bersama-sama menghasilkan musik, demikian juga bagian-bagian CTL yang terpisah melibatkan proses-proses yang berbeda, yang ketika digunakan secara besama-sama, memampukan para siswa yang membuat hubungan menghasilkan makna. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama mereka membentuk suatu sistem yang memungkinkan para siswa melihat makna di dalamnya dan mengingat materi akademik. (Elaine B. Johnson, 2005: 65). James Le Marquad mengemukakan bahwa aplikasi pembelajaran kontekstual di dalam kelas di Amerika pertama kali dilakukan oleh John Dewey. Pendapatnya 217 tentang pembelajaran kontekstual terdapat dalam Yulia Krisnawati dan Suwarsih sebagai berikut : “People have used such term as discovery learning, experiential learning, real world education to mean similar ideas ... “ (jurnal penelitian dan evaluasi, 2004: 55). Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif untuk dapat menemukan dan membangun pengetahuan yang baru dengan cara mengaitkan dunia nyata siswa dalam berbagai bentuk kegiatan agar siswa mengalami sendiri. b. Komponen Utama Pendekaan Kontekstual Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama pembelajaran efekti yaitu: konstruktivisme (constructivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Nurhadi, 2005: 105). Ketujuh komponen tersebut lebih lanjut diuraikan sebagai berikut : 
a) Konstruktivisme (Constructivisme) Konstruktisme merupakan landasan berpikir atau filosofi pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, tidak sekonyongkonyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus menemukan dan menstransformasikan suatu informasi itu dalam situasi lain. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut. Pengetahuan tumbuh dan berkembang 218 melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Secara sederhana konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan kita itu merupakan konstruksi (bentukan) dari kita yang mengetahui sesuatu. Seseorang yang belajar itu membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif (tidak hanya menerima dari guru mereka) dan terus menerus (Paul Suparno 2006: 11). 
b) Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Dengan bertanya dapat menggali informasi, membangkitkan respon, mengecek pemahaman, memfokuskan perhatian, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui dan menyarkan kembali pengetahuan siswa. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran CTL. Bagi guru dengan bertanya akan mendorong, membuktikan dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa dengan bertanya untuk mendapatkan informasi, menginformasikan apa yang sudah siswa ketahui, dan dapat mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya (Depdiknas, 2003 : 13-14). Untuk mencapai tujuan di atas terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan guru. Dalam upaya meningkatkan partisipasi siswa dalam proses atau kegiatan pembelajaran, guru perlu menunjukkan sikap kehangatan dan keantusiasan, baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Dalam kaitan ini kemampuan guru dalam memberikan penguatan dan penghargaan baik secara verbal maupun non verbal sangat dibutuhkan. Berkenaan dengan strategi bertanya, beberapa hal kebiasaan yang perlu dihindari dalam bertanya. Kebiasaan itu adalah (a) mengulangi pertanyaan sendiri, (b) mengulang jabawan siswa, (c) menjawab pertanyaan sendiri, (d) 219 pertanyaan yang memancing jawaban serentak, (e) pertanyaan ganda, (f) menentukan siswa tertentu untuk menjawab. 

c) Menemukan (inquiry) Menenemukan merupakan kegiatan inti dari CTL. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Inquiry sering dipertukarkan dengan discovery. Sund berpendapat bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip sedangkan inquiry adalah proses perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam (B. Suryo Subroto, 2002: 193). Dari pendapat itu dapat dijelaskan bahwa inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya saja proses mental dalam discovery siswa mengamati sesuatu obyek, maka memasuki proses mental dalam inquiry anak tidak hanya sekedar mengamati obyek tetapi juga mampu menemukan data dan menarik kesimpulan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode penemuan itu merupakan metode dalam proses belajar mengajar yang mengkaryakan siswa untuk menemukan sendir pengetahuan dan keterampilan dari bahan yang dipelajari. Pengtahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta yang diberikan oleh guru. Siswa diharapkan menemukan sendiri apapun materinya. Dalam usaha siswa untuk menemukan itu guru hendaknya menerapkan langkah-langkah dalam kegiatan menemukan antara lain: (1) mengetahui masalah yang dibahas, (2) mengamati atau melakukan observasi, untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, (3) menganalisis dan menyajikan dalam bentuk tulisan, gambar atau karya yang lain, (4) mengkomunikasikan dengan menyajikan hasil karya dengan teman sekelas, guru 220 atau orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta koreksi teman melakukan refleksi dan menempelkan karyanya itu pada dinding kelas (Depdiknas, 2003: 12-13). Namun perlu dingat, betapa hebatnya suatu metode tetap memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan metode inquiry antara lain: pengetahuan yang diperoleh siswa sangat kuat dan mendalam, membantu siswa mengembangkan keterampilan dan proses kognitif siswa, membangkitkan gairah pada siswa karena dengan jerih payahnya mereka berhasil menemukan, dan memperkuat rasa percaya diri. Sedangkan kelemahannya, perlu persiapan mental untuk cara belajar, kurang tepat untuk mengajar kelas besar karena waktu terbuang banyak untuk beberapa siswa saja, tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang berarti (B. Suryo Subroto, 2002: 200-202). Senada dengan B. Suryo Subroto Nurhadi (2005: 122-123) mengemukakan bahwa pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan suatu pilar penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau pembaharuan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan atau inquiry, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Penganjur Pembelajaran dengan Basis Inquiry menyatakan idenya sebagai berikut: kita mengajarkan suatu bahan kajian tidak untuk menghasilkan suatu perpustakaan hidup tentang bahan kajian, tetapi lebih ditujukan untuk membuat siswa berpikir ... untuk diri mereka sendiri, meneladani seperti apa yang dilakukan oleh seorang sejarawan, mereka turut mengambil bagian dalam proses mendapatkan pengetahuan. Mengetahui 221 adalah suatu proses bukan suatu produk. Belajar dengan penemuan dapat diterapkan dalam banyak mata pelajaran. Keuntungan menggunakan pendekatan inquiry memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi siswa untuk melanjutkan pekerjaannya hingga menemukan jawaban. Siswa juga memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi. Inquiry adalah seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Selama proses inquiry berlangsung, seorang guru dapat mengajukan pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan bersifat open – ended memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan mencari jawaban sendiri (tetapi tidak hanya satu jawaban yang benar). Manfaat inquiry memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif kepada siswa. Siswa diharapkan mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan masalah membuat keputusan dan memperoleh keterampilan. Inquiry memungkinkan siswa dalam berbagai tahap perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan bahkan bekerja sama mencari solusi terhadap masalah-masalah. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing. 
d) Masyarakat Belajar (learning community) Masyarakat belajar dapat terjadi apabila terdapat proses komunikasi dua arah dan adanya hubungan dialogis. Kegiatan saling belajar bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada yang menganggap paling tahu dan semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. 222 Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok dan antara yang tahu ke yang belum tahu (Depdiknas, 2003: 15). Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen. Menurut John Dewey, sekolah adalah miniatur masyarakat sudah selayaknya anak didik belajar mengenai tata cara bermasyarakat dalam konteks-konteks yang sesungguhnya semasa di sekolah. (Anita Lie, 2004: 15). Mendasarkan pemikiran dari John Dewey tersebut maka masyarakat belajar dapat diterapkan dengan metode cooperative learning atau pembelajaran gotong royong. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk membina pembelajaran siswa dalam mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajaran yang lain. Untuk itu ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru yakni: (1) mengelompokkan siswa secara heterogen, (2) menimbulkan semangat gotong royong, dan (3) penataan ruang kelas (Anita Lie, 2004: 38). Uraian lebih lanjut mengenai ketiga hal tersebut akan dijelaskan berikut ini. Selama ini telah menjadi kebiasaan yang dibanggakan di beberapa sekolah unggulan yang ingin menonjolkan kelas khusus yang terdiri dari anak-anak cerdas dan berbakat. Kelas ini yang sekarang terkenal dengan kelas akselerasi. Pengelompokan semacam ini memang sangat disukai karena sangat praktis dan mudah pengadministrasiannya. Selain itu juga mudah dalam pengajarannya namun dibalik manfaat itu ada dampak negatifnya. Pertama, hal itu bertentangan dengan misi pendidikan, yang tidak bisa mencerminkan kemampuan siswa secara individu. Kedua, oleh John Dewey bahwa sekolah seharusnya menjadi miniatur 223 masyarakat, karena itu dalam masyarakat kelas mencerminkan keanekaragaman. Pengelompokan heterogenitas merupakan ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran kooperatif. Hal ini karena beberapa alasan yaitu dengan kelompok yang heterogen memberi kesempatan siswa saling mendukung dan meningkatkan relasi interaksi (Anita Lie, 2004: 39-44). Agar kelompok dapat secara efektif dalam proses pembelajaran maka diperlukan semangat gotong royong. Kelompok merasa bersatu jika masingmasing anggota kelompok mengenalkan keunikan rekan-rekannya. Hal lain yang terpenting adalah penataan ruang kelas. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bisa melihat guru atau papan tulis dengan jelas. Siswa bisa melihat rekan-rekan kelompoknya. Kelompok bisa berdekatan tetapi tidak mengganggu kelompok lain. Dalam kelas CTL siswa tidak harus selalu duduk menghadap papan tulis. Siswa bebas begerak dalam rangka menyelesaikan tugasnya. 
e) Pemodelan (Modelling) Dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh siswa. Namun perlu diingat bahwa guru bukanlah satu-satunya model dalam kelas. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalnya jika ada siswa yang sudah dapat menguasai kemampuan terlebih dahulu, ditunjuk untuk menjadi model bagi temannya. Atau guru bisa mendatangkan model dari luar misalnya tukang kayu, pengrajin, sastrawan, dan para ahli lainnya yang mau dimintai untuk bekerja sama (Depdiknas, 2003: 16). Dalam pembelajaran guru perlu memberi contoh sebelum siswa melaksanakan tugas. Ketika guru mendemonstrasikan sesuatu, siswa mengamati dengan penuh perhatian. Dengan begitu diharapkan siswa tahu. Inilah yang 224 disebut pemodelan. Ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa sebelum siswa berlatih sendiri. 
f) Penilaian Otentik (Authentic Assessment) Dalam CTL, penilaian tidak dilaksanakan pada akhir periode, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran (Sarwiji Suwandi, 2004: 33). Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa menggambarkan perkembangan belajar siswa. Hal ini perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila ditemui siswa mengalami hambatan, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat. Data yang dikumpulkan melalui penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran (Nurhadi, 2005: 168). Dengan demikian kemajuan belajar dinilai dari proses bukan melulu hasil. Siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Prinsip utama assessment dalam KTSP tidak hanyak menilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga apa yang dapat dilakukan siswa. Penilaian ini mengutamakan kualitas hasil kerja siswa dalam menyelesaikan tugas. Tes bukan merupakan satu-satunya alat penilaian. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar menilai: pekerjaan rumah, kuis, presentasi dan hasil karya. Ciri penilaian yang otentik antara lain sebagai berikut : 
  1. Mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk. 
  2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. 
  3. Menggunakan berbagai cara dan sumber. 225 
  4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. 
  5. Tugas yang diberikan kepada siswa berhubungan dengan keseharian kehidupan siswa. 
  6. Menekankan ke dalam pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasaannya. 
Ketentuan pokok yang harus ditaati dalam menerapkan penilaian otentik adalah sebagai berikut : 
  1. Penilaian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran bukan terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not a part from instuction). 
  2. Penilaian mencerminkan masalah dunia nyata (rel world problems ) bukan masalah dunia sekolah (school work king of problems) 
  3. Penilaian menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar. 
  4.  Penilaian bersifat holistik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan sensori motorik. Alat penilaian yang disarankan adalah sebagai berikut : 
  • Hasil karya (product) : berupa karya seni, laporan, gambar, bagan, tulisan, dan benda. 
  • Penugasan (project) yaitu bagaimana siswa bekerja dalam kelompok atau individual untuk menyelesaikan sebuah proyek. 
  • Unjuk Kerja (performance) yaitu penampilan diri dalam kelompok maupun individual dalam bentuk kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, inisiatif, dan penampilan di depan umum. 
  • Test Terlulis (paper and pencil test), yaitu penilaian yang didasarkan pada hasil ulangan harian, semester, atau akhir program. 226 
  • Kumpulan hasil kerja siswa (portofolio), yaitu kumpulan karya siswa berupa laporan, gambar, peta, benda-benda, karya tulis, isian, tabel-tabel, dan lainlain. Beberapa sumber data penelitian otentik: proyek/kegiatan dan laporan; hasil tes tulis (ulangan harian, semester, atau akhir jenjang pendidikan); portofolio (kumpulan karya siswa selama satu semester atau satu tahun); pekerjaan rumah; kuis; karya siswa; presentasi atau penampilan siswa; demonstrasi; laporan; jurnal; karya tulis; kelompok diskusi; dan wawancara. g) Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang segala sesuatu yang sudah dilakukan. 

Pada saat itu siswa mengendapkan apa yang baru saja dipelajarinya sebagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Siswa memperluas pengetahuan yang dimilikinya melalui konteks pembelajaran yang diperluas sedikit demi sedikit. Sementara guru membantu menghubungkan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru itu. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Bukti bahwa telah dilakukannya refleksi di akhir pembelajaran dapat berupa pernyataan langsung siswa tentang apa yang telah diperoleh hari ini, catatan di buku/ jurnal, kesan dan saran, hasil karya dan diskusi antara teman. 227 c. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Menulis di Sekolah Dasar Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keakftifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan (E. Mulyasa, 2006: 117). Guru harus menguasai prinsipprinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil-hasil belajar peserta didik, serta memilih dan menggunakan strategi pembelajaran. Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Karena itu guru harus mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetisi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya mewakili taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri mengandung variasi konsep, belajar, sikap, dan seterusnya Gagne dalam E. Mulyasa (2006: 117). Perbedaan tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Pembelajaran efektif dan bermakna dapat dilakukan dengan prosedur pemanasan dan apersepsi, eksplorasi, konsolodasi pembelajaran , pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku, dan penilaian formatif. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teching and Learning) yang sering disingkat CTL merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan mengefektifkan pembelajaran. 228 Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning - CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kedalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar (Nurhadi, 2004: 103). Menurut pandangan Nurhadi (2005: 106) penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar langkah-langkahnya sebagai berikut. 
  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya! 
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik! 
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya! 
  4. Ciptakan “masyarakat belajar” (belajar dalam kelompok-kelompok)! 
  5. Hadirkan “model” sebagai contoh pembelajaran! 
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan! 
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara! 
Nurhadi memberikan contoh langkah-langkah pembelajaran kontekstual sebagai berikut. Langkah-langkah/ skenario pembelajaran yang dilakukan adalah pengorganisasian siswa, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian. Pada langkah pengorganisasian, siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil, tiap-tiap kelompok anggotanya empat sampai dengan lima orang. Setelah terbentuk kelompokkelompok kecil, pembelajaran segera dimulai. Pertemuan pertama, mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran, penjelasan penggunaan alat, melakukan kegiatan percobaan, mengamati dan melaporkan hasil pengamatan, menyimpulkan hasil kegiatan, dan memberi contoh terapan. Pada pertemuan kedua, mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran, penjelasan penggunaan alat, melakukan 229 kegiatan percobaan, mengamati dan melaporkan hasil pengamatan, menyimpulkan hasil kegiatan, dan memberi contoh terapan. Alat dan bahan disiapkan untuk mengefektifkan pembelajaran. Kemudian melakukan penilaian. Penilaian berupa penilaian kinerja, dan penilaian produk. Kemampuan profesional yang harus dikuasai seorang guru bahasa Indonesia, pada garis besarnya, yaitu (1) menguasai materi pelajaran, (2) mampu merencanakan program belajar mengajar, (3) mampu mengelola proses belajar mengajar, (4) mampu melaksanakan proses belajar mengajar, (5) mampu menggunakan media dan sumber belajar, (6) mampu melaksanakan evaluasi prestasi siswa, (7) mampu menyusun program bimbingan dan penyuluhan, (8) mampu mendiagnose kesulitan belajar siswa, (9) mampu melaksanakan administrasi guru. Menurut E. Mulyasa (2006: 73-80) seorang guru yang akan melaksanakan kurikulum 2004 diharapkan memiliki kemampuan mengembangkan persiapan mengajar, melaksanakan pembelajaran, dan menguasai sistem evaluasi. Persiapan mengajar pada hekikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang akan dilakukan. Fungsi persiapan mengajar adalah mendorong guru lebih siap melaksanakan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan, baik persiapan tertulis maupun persiapan tidak tertulis. Selain itu, persiapan mengajar berfungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal: pre tes, proses, dan post tes. (E. Mulyasa, 2006: 126-131). Ketiga hal tersebut dijelaskan sebagai berikut : 230 
1. Pre Tes (tes awal) Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Fungsi pre tes ini antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 
  • Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka jawab/kerjakan. 
  • Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. 
  • Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. 
  • Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik, dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus. 
2. Proses Proses di sini dimaksudkan sebagai kegiatan ini dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, untuk memenuhi tuntutan tersebut pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaktidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan out put yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, pekembangan masyarakat, dan pembangunan. 
3. Post Tes 231 Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post tes. Fungsi post tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 
  1. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan antara hasil pre tes dan post tes. 
  2. 2Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya. Sehubungan dengan kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasai ini, apabila sebagian besar belum menguasainya maka perlu dilakukan pembelajaran kembali (remedial teaching). 
  3. 3Untuk mengetahui peserta didik-peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remidial, dan peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul (kesulitan belajar). 
  4. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponenkomponen modul, dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. 
terdiri dari delapan komponen: membuat keterkaitan yang bermakna, pembelajaran mandiri, melakukan pekerjaan yang berarti, berpikir kritis dan kreatif membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian yang autentik (Elaine B. Johnson, 2002: 15) Demi CTL, ada sejumlah strategi yang masih ditempuh. Ketujuh strategi/ayat pendidikan kontekstual tersebut meliputi, pengajaran berbasih problem; menggunakan konteks yang beragam; mempertimbangkan kebhinekaan siswa; memberdayakan siswa untuk belajar sendiri; belajar melalui kolaborasi; menggunakan penilaian autentik; dan mengejar standar tinggi (Elaine B. Johnson, 2006: 21-22). Berbeda dengan Elaine B. Johnson, Nurhadi (2005: 105) mengemukakan pembelajaran berbasis CTL, melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). 232 Nurhadi dalam E. Mulyasa (2006: 137-138) mengemukakan dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi yang pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memugkinkan peserta didik belajar. 

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa dalam diri peserta didik (internal), dan dari luar dirinya atau lingkungan di sekitanya (eksternal). Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual secara keseluruhan. Pendapat Nurhadi dalam E. Mulyasa (2006: 138) tentang lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual sebagai berikut. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa aktif bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”. Pembelajaran harus berpusat pada “bagaimana siswa” menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Zahorik dalam E. Mulyasa (2006: 138) mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut : 
1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik. 
2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagian secara khusus (dari umum ke khusus). 
3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara : 
  • menyusun konsep sementara. 
  • Menyusun sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain. 
  • Merevisi dan mengembangkan konsep. 233 
4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apaapa yang dipelajari. 
5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari. Sistem pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah tentang pencapaian intelektual yang berasal dari partisipasi aktif merasakan pengalaman-pengalaman yang bermakna, pengalaman yang memperkuat hubungan antara sel-sel otak yang sudah ada dan membentuk hubungan saraf. Elaine B. Johnson (2006: 181). Kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika filosofi belajarnya adalah konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuk masyarakat belajar, ada model yang ditiru, dan dilakukan penilaian sebenarnya. 

Nurhadi (2005: 107) berpendapat bahwa kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual mempunyai ciri-ciri pembelajarannya memberikan pengalaman nyata, ada kerja sama, saling menunjang, suasananya gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif dan kritis, menyenangkan, tidak memosankan, sharing dengan teman, dan guru kreatif. Pendekatan kontekstual tidak hanya diterapkan di kelas khusus yang jumlah peserta didiknya sedikit, tetapi juga dapat diterapkan di kelas yang peserta didiknya banyak/besar. Sri Harjani (2005: 155-156) dalam tesisnya yang berjudul “Pengembangan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Pendekaan Kontekstual” menyatakan bahwa pendekatan kontekstual memberi pengaruh positif terhadap proses pembelajaran. Penerapan pendekatan kontekstual dalam setiap siklusnya menunjukkan peningkatan kemampuan yang dicapai oleh siswa. Secara keseluruhan siswa yang tadinya belum bisa membaca dan menulis, setelah mengalami proses 234 pembelajaran dengan pendekatan kontekstual siswa mampu membaca dan menulis kalimat sederhana. Penerapan pendekatan kontekstual yang kuncinya mengutamakan pengalaman nyata diterapkan dalam pembelajaran menulis, yaitu menulis pengalaman. 

Hal ini sesuai dengan pendapat Sudartomo M.yang dikutip Pangesti Wiedarti (2005: 9-11) tentang pembelajaran menulis, mengemukakan bahwa anak dapat diajak menuliskan aneka fenomena yang dekat anak termasuk pengalamannya sendiri yang pasti dikuasai. Sudartomo M. Mengimplementasikannya ke dalam bentuk surat kepada Tuhan dan buku harian. Buku harian memiliki potensi sebagai mitra, belantara, dan lautan tempat mencurahkan rasa sukacita, dukacita, kesal, cemburu, puas, kecewa, sesal, dan sebagainya.