Articles by "membaca"
Showing posts with label membaca. Show all posts
no image
Relevansi Aktivitas Membaca dan Kemampuan Berpikir Kritis
Globalisasi tidak semata-mata terpusat pada ranah ilmu pengetahuan dan teknologi belaka melainkan juga mempengaruhi paradigma sosial, politik, ekonomi dan budaya sehingga setiap jengkal wilayah kehidupan dan setiap individu terkena imbasnya, tak hanya sisi positif melainkan juga sisi negatifnya. Imbas negatif dan positif globalisasi ini bisa diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang saling terikat sehingga keberadaan salah satu sisi tak mungkin terlepas dari yang lainnya. Pencapaian yang tinggi di berbagai bidang kehidupan seperti kemajuan teknologi, perluasan jaringan komunikasi global dan perkembangan ekonomi sebagai imbas positif globalisasi harus diimbangi dengan semakin peliknya permasalahan dan semakin tingginya tuntutan kehidupan yang dihadapi manusia. 

Manusia dalam usahanya untuk bertahan hidup akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahannya melalui usaha kreatif dan kemampuannya memecahkan masalah (problem solving). Usaha manusia untuk bertahan hidup berkaitan langsung dengan aspek kognitif manusia yaitu kemampuan berpikir. Berpikir merupakan proses internal yang di dalamnya terjadi pengubahan informasi sehingga memungkinkan untuk diarahkan menuju pemecahan masalah yang menghasilkan gambaran mental baru (Solso, 1998). Santrock dan Halonen (1999) mengungkapkan bahwa informasi yang diubah melalui proses berpikir terdapat dalam memori. Pemerolehan informasi yang semakin banyak akan membuat proses berpikir semakin baik dan tindakan yang dilakukan semakin mengena (de Bono, 1990). Permasalahan yang kompleks dan tingginya tuntutan kehidupan yang dihadapi manusia seiring perkembangan zaman tidak mungkin teratasi hanya dengan mengandalkan proses berpikir yang ‘biasa’ saja, yaitu suatu proses berpikir yang kurang sistematis ataupun analitis. Proses berpikir semacam ini sulit menghasilkan kesimpulan atau solusi yang mengena bagi pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan. Manusia membutuhkan suatu usaha yang lebih aktif lagi dalam menerima dan mengolah informasi baru yang masuk dalaam memorinya. 

Fakta yang ada pada masyarakat dewasa ini menunjukkan minimnya fungsi berpikir individu terlebih lagi kemampuan berpikir kritis berupa kemampuan memproses fakta dan data melalui tahap observasi, pengujian hipotesis serta evaluasi secara tepat dan analitis sehingga menghasilkan suatu kesimpulan akurat. Budaya kritis yang rendah pada masyarakat lebih dikarenakan kurangnya usaha pembentukan dan penanaman kebiasaan bersikap dan berpikir kritis sejak dini. Keluarga dan sekolah sebagai institusi pendidikan utama dan mendasar bagi perkembangan individu kuran mengkondisikan sikap dan pemikiran kritis secara optimal sehingga lahirlah individu-individu yang pasif, tidak cepat tanggap dan tidak mampu menyelesaikan persoalan atau menyikapi kondisi aktual masyarakat secara kritis.

Berpikir kritis mengandung pengertian memahami makna masalah secara lebih dalam, mempertahankan agar pikiran tetap terbuka terhadap segala pendekatan dan pandangan yang berbeda, berpikir reflektif dan bukan hanya menerima pernyataan-pernyataan serta melaksanakan prosedur-prosedur tanpa pemahaman dan evaluasi yang signifikan (Santrock, 1995). 

Seorang pakar psikologi kognitif, Robert J. Sternberg (dalam Santrock, 1995), menyatakan bahwa untuk dapat mengolah kemampuan berpikir secara kritis maka perlu dilakukan sejumlah langkah, diantaranya adalah memperluas landasan pengetahuan. Perluasan landasan pengetahuan ini dapat dicapai melalui aktivitas membaca sebagaimana pendapat Erryanti (2001) yang menyatakan bahwa individu dapat memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan dan memperkaya pengalaman melalui aktivitas membaca.

Membaca merupakan salah satu aktivitas yang paling penting bagi kehidupan manusia. Aktivitas membaca memfasilitasi dan menjadi penunjang kelangsungan berbagai bidang kehidupan karena banyak sekali aktivitas atau kegiatan lainnya yang bergantung pada aktivitas membaca, misalnya belajar atau bekerja (Ampuni, 1998). Keterampilan membaca merupakan keterampilan dasar yang mempengaruhi dan berperan penting dalam penguasaan keterampilan lainnya karena melalui membaca terjadi transfer informasi, pengetahuan dan wawasan.

Schmitt dan Viala (Madiyant, 1993) membagi definisi membaca dalam pengertian khusus dan umum. Membaca dalam arti khusus adalah suatu upaya mengurai teks tulis tetapi dalam arti yang lebih luas, membaca adalah suatu kegiatan mengobservasi suatu jaringan tanda sebagaimana karakteristiknya untuk tujuan membongkar maknanya sehingga wajar apabila kegiatan ini meluas menjadi membaca suatu gambar, lukisan, grafik dan sebagainya.

Aktivitas membaca baik dalam arti umum atau khusus tidak mungkin terlepas dari aktivitas berpikir karena kedua aktivitas ini berpusat pada organ fisik yang sama yaitu otak sebagai pusat fungsi kognitif manusia. Individu yang melakukan aktivitas membaca secara otomatis juga menggerakkan fungsi berpikirnya. Matlin (dalam Ampuni, 1998) berpendapat bahwa membaca merupakan aktivitas yang melibatkan sejumlah kerja kognitif termasuk persepsi dan kognisi. Membaca meliputi banyak berpikir (de Bono, 1990) sehingga melalui aktivitas membaca, individu juga menggerakkan dan mengaktifkan proses berpikirnya. Kaitan antara aktivitas membaca dan berpikir ini semakin ditegaskan lagi oleh Taryadi yang mengutip pendapat Karlina Leksono (Darmanto, 2001) yang menyatakan bahwa membaca dan menulis merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan penalaran individual, pemikiran kritis independen, pembangkitan kepekaan terhadap kemanusiaan.

“Anda adalah apa yang Anda baca” ( you are what you read ). Pepatah ini tidak hanya menunjukkan peran penting aktivitas membaca dalam memfasilitasi kelangsungan aktivitas lainnya dalam kehidupan manusia melainkan juga menegaskan peranan penting membaca dalam mengkonstruksi identitas individu, dalam hal ini, si pelaku aktivitas pembaca. Seseorang biasanya secara otomatis diberi label sesuai dengan preferensi bacaannya, misalnya seseorang dilabeli ‘berhaluan kiri’ apabila dia banyak mengkonsumsi buku-buku beraliran ‘kiri’. Pendapat yang wajar bila menilik bahwa seseorang tidak mungkin terlepas dari jenis bacaan yang dikonsumsinya karena apa yang dibacanya menjadi salah satu tolak ukur dari minat, paradigma pemikiran dan kapasitas intelektualnya.

Perbedaan jenis bacaan yang dikonsumsi tidak hanya mencerminkan identitas pembacanya melainkan juga mengindikasikan tujuan yang ingin dicapai melalui aktivitas membaca, misalnya membaca untuk menambah pengetahuan dan informasi atau hanya sekedar untuk tujuan kesenangan. Tujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui aktivitas membaca pun akan tercapai bila individu memilih bacaan yang tepat, yaitu bacaan yang mampu merangsang kemampuan induksi, deduksi, observasi dan evaluasi yang merupakan sejumlah aspek kemampuan berpikir kritis.

Jenis bacaan umumnya terbagi menjadi jenis bacaaan fiksi dan non fiksi. Bacaan fiksi merupakan karangan yang dibuat berdasarkan imajinasi walaupun isinya menyerupai kenyataan seperti cerpen, komik atau novel sedangkan bacaaan non fiksi berisi pernyataan atau kenyataan sesungguhnya seperti karangan ilmiah, essai atau laporan penelitian. Kegiatan membaca bacaan non fiksi yang berorientasi pada pengetahuan dan informasi akan lebih membiasakan dan merangsang individu untuk berpikir kritis bila dibandingkan bacaan fiksi yang, tanpa mengecilkan manfaatnya, lebih berorientasi untuk kesenangan dan hiburan (Salindri, 1996).

Mahasiswa sebagai kalangan intelektual yang dibesarkan melalui institusi akademik diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak hanya menjadi sumber daya manusia yang berkompetensi secara akademis namun juga berkualitas untuk menghadapi tantangan zaman. Laporan-laporan penelitian yang dikutip oleh Halpern (Hastjarjo, 1999) menggambarkan betapa miskinnya pemikiran kritis mahasiswa dan orang dewasa di sejumlah negara. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang rendah ini tidak hanya tercermin dalam aktivitas akademiknya tapi juga dalam perannya sebagai anggota masyarakat. Mahasiswa cenderung pasif dalam menghadapi permasalahan dan kurang peka atau peduli terhadap kondisi aktual lingkungan sekitarnya. Karakteristik ini akan terus berlanjut dan terbawa sampai mahasiswa tersebut lulus dari Perguruan Tinggi dan terjun langsung ke masyarakat sehingga lahirlah generasi penerus yang ‘timpang’ dalam menghadapi tantangan zaman. Kemampuan berpikir kritis yang rendah pada mahasiswa merupakan dampak lanjutan dari kurangnya usaha penanaman dan pembentukan budaya kritis oleh lingkungaan (baca : keluarga) ataupun institusi pendidikan. Salah satu usaha pembentukan sikap dan pemikiran kritis, sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, adalah melalui aktivitas membaca.

Relevansi antara aktivitas membaca mahasiswa dengan pemikiran kritisnya terlihat dari adanya fenomena baik pada mahasiswa maupun masyarakat luas yang menunjukkan bahwa mahasiswa atau orang yang kritis umumnya adalah individu yang gemar dan aktif membaca. Aktivitas membaca memberikan pengetahuan sebagai landasan pemikiran kritis karena informasi yang ditransfer melalui membaca dapatmeningkatkan kualitas isi dan bobot pemikiran individu. Keluasan perspektif atau cara pandang yang membentuk kerangka pemikiran pun bisa dikembangkan melalui membaca. Membaca merupakan aktivitas konstruktif untuk merangsang perkembangan potensi individu termasuk pembangunan sikap dan pikiran individu (Muflih, 2001) sehingga membentuk individu yang kritis baik sikap maupun pemikirannya. Tradisi membaca diakui sangat berperan dalam kemajuan suatu bangsa. Negara-negara maju pada umumnya memiliki tradisi membaca yang tinggi sementara di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tradisi membaca terhambat berbagai permasalahan terutama masalah ekonomi yang kompleks dalam masyarakatnya. 

Jajak pendapat mengenai pola konsumsi buku pada mahasiswa di sejumlah Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang dilaksanakan oleh tim Penelitian dan Pengembangan Jurnal Balairung pada bulan Maret-April 2001 memang menunjukkan tingginya jumlah mahasiswa yang aktif membaca (98,6 %) akan tetapi jenis bacaan yang paling diminati oleh mahasiswa adalah komik (Andari, 2001). Poling ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih cenderung memilih bacaan ringan (baca: fiksi) yang bertujuan menghibur atau untuk kesenangan seperti komik, novel populer dibandingkan bacaan serius (baca: non fiksi). Mahasiswa yang seharusnya memilih bacaan yang berbobot sebagai sarana konstruktif bagi pengembangan dirinya justru berkutat pada bacaan yang kurang berbobot sehingga wajar bila potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa, termasuk kemampuan berpikir kritis masih amat minim. Bila kondisi ini terus berlanjut maka mahasiswa akan menjadi sumber daya manusia yang tergagap-gagap dalam menjalani perannya sebagai akademisi maupun menghadapi tantangan dunia nyata saat ia lulus dari Perguruan Tinggi. Akan tetapi, selain aspek jenis bacaan, perlu juga dicermati kualitas dari aktivitas membaca tersebut sebagai aspek pendukung utama pencapaian kemampuan berpikir kritis. Membaca bukan hanya sekedar memindai dan merangkai aksara melainkan juga memaknai, menyadari dan memahami muatan bacaan, karena kesadaran dan pikiran adalah kunci keberadaan. Sudahkah anda (benar-benar) membaca ?
no image
1. A. Membaca Scanning
1. Pengertian
Membaca tatap (scanning) atau disebut juga membaca memindai adalah membaca sangat cepat. Ketika seseorang membaca memindai, dia akan melampaui banyak kata. Menurut Mikulecky & Jeffries (dalam Farida Rahim, 2005), membaca memindai penting untuk meningkatkan kemampuan membaca. Teknik membaca ini berguna untuk mencari beberapa informasi secepat mungkin. Biasanya kita membaca kata per kata dari setiap kalimat yang dibacanya. Dengan berlatih teknik membaca memindai, seseorang bisa belajar membaca untuk memahami teks bacaan dengan cara yang lebih cepat. Tapi, membaca dengan cara memindai ini tidak asal digunakan. Jika untuk keperluan untuk membaca buku teks, puisi, surat penting dari ahli hukum, dan sebagainya, perlu lebih detil membacanya.
Scanning atau membaca memindai berarti mencari informasi spesifik secara cepat dan akurat. Memindai artinya terbang di atas halaman-halaman buku. Membaca dengan teknik memindai artinya menyapu halaman buku untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Scanning berkaitan dengan menggerakan mata secara cepat keseluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.
Teknik membaca memindai (scanning) adalah teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat, dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata, kemudian ketika sampai pada bagian yang dibutuhkan, gerakan mata berhenti. Mata bergerak cepat, meloncat-loncat, dan tidak melihat kata demi kata. 

1. Langkah-langkah Scanning
  • Perhatikan penggunaan urutan seperti ‘angka’, ‘huruf’, ‘langkah’, ‘pertama’, ‘kedua’, atau ‘selanjutnya’.
  • Carilah kata yang dicetak tebal, miring atau yang dicetak berbeda dengan teks lainnya.
  • Terkadang penulis menempatkan kata kunci di batas paragraph
Langkah atau proses scanning yang lain yakni:
  • Menggerakkan mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah menemukan informasi yang telah ditetapkan,
  • Setelah ditemukan kecepatan diperlambat untuk menemukan keterangan lengkap dari informasi yang dicari, dan
  • Pembaca dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang dibaca (misalnya, kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap halaman bagian kanan atas, ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata, dan sebagainya).
1. Tujuan
Adapun tujuan dari membaca scanning yaitu:
  • Mencari informasi dalam buku secara cepat,
  • Scanning merupakan teknik membaca cepat untuk menemukan informasi yang telah ditentukan pembaca,
  • Pembaca telah menentukan kata yang dicari sebelum kegiatan scanning dilakukan, pembaca tidak membaca bagian lain dari teks kecuali informasi yang dicari.
  • Mendapatkan informasi spesifik dari sebuah teks. Biasanya, ini dilakukan jika Anda telah mengetahui dengan pasti apa yang Anda cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik.
1. Contoh
Membaca scanning/memindai misalnya membaca mencari arti kta di kamus, menbaca acara siaran di Telivisi, membaca daftar pejalanan, memcari nomor telepon di buku telepon,membaca daftar menu makan di rumah makan, membaca jadwal pelajaran,mencari pada papan pengumuman, mencari topik pada daftar isi sebuah buku dll

B. Membaca Skimming
1. Pengertian
Membaca-layap (skimming) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan. (Farida Rahim, 2005). Membaca layap dibutuhkan untuk mengetahui sudut pandang penulis tentang sesuatu, menemukan pola organisasi paragraf, dan menemukan gagasan umum dengan cepat (Mikulecky & Jeffries dalam Farida Rahim, 2005).
Pengertian lain dari membaca skimming adalah membaca sekilas atau membaca cepat untuk mendapatkan suatu informasi dari yang kita baca. Skimming dilakukan untuk melakukan pembacaan cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan. Dalam skimming, proses membaca dilakukan secara melompat-lompat dengan melihat pokok-pokok pikiran utama dalam bahan bacaan sambil memahami tema besarnya.
Selain untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah teks. Untuk mengetahui apakah suatu artikel sesuai dengan apa yang kita cari. Untuk menilai artikel tersebut, apakah menarik untuk dibaca lebih lanjut secara mendetail. Kecepatan membaca secara skimming biasanya sekitar 3-4 kali lebih cepat dari membaca biasa. 

1. Langkah-langkah Skimming
  • Baca judul, sub judul dan subheading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
  • Perhatikan ilustrasi (gambar atau foto) agar Anda mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut.
  • Baca awal dan akhir kalimat setiap paragraph
  • Jangan membaca kata per kata. Biarkan mata Anda melakukan skimming kulit luar sebuah teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
  • Lanjutkan dengan berpikir mengenai arti teks tersebut
1. Tujuan
Banyak yang mengartikan skimming sebagai sekedar menyapu halaman, sedangkan pengertian yang sebenarnya adalah suatu ketrampilan membaca yang diatur secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien, untuk berbagai tujuan, seperti hal berikut:
  • Untuk mengenali topik bacaan. Apabila anda pergi ke toko buku atau perpustakaan dan ingin mengetahui pembahasan apa dalam buku yang anda pilih itu, anda melakukan skimming beberapa menit (atau browsing). Skimming untuk melihat bahan yang akan dibaca, sekadar untuk mengetahui bahan tersebut, juga dilakukan orang untuk memilih artikel di majalah dan surat kabar (kliping)
  • Untuk mengetahui pendapat orang (opini). Disini anda sudah mengetahui topik yang dibahas, yang anda butuhkan adalah pendapat penulis itu terhadap masalah tersebut. Misalnya, tulisan tajuk surat kabar; anda mungkin cukup membaca paragraf pertama atau akhir yang biasanya memuat kesimpulan yang dibuat oleh penulisnya (redaksi).
  • Untuk mendapatkan bagian penting yang kita perlukan tanpa membaca seluruhnya. Anda perlu melihat semua bahan itu untuk memilih ide yang bagus, tetapi tidak membaca secara lengkap
1. Contoh
Skimming untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah halaman buku teks sehingga dapat memutuskan apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail.

2 maaf saya kurang tahu 
3 . A. Membaca Scanning
2. Pengertian
Membaca tatap (scanning) atau disebut juga membaca memindai adalah membaca sangat cepat. Ketika seseorang membaca memindai, dia akan melampaui banyak kata. Menurut Mikulecky & Jeffries (dalam Farida Rahim, 2005), membaca memindai penting untuk meningkatkan kemampuan membaca. Teknik membaca ini berguna untuk mencari beberapa informasi secepat mungkin. Biasanya kita membaca kata per kata dari setiap kalimat yang dibacanya. Dengan berlatih teknik membaca memindai, seseorang bisa belajar membaca untuk memahami teks bacaan dengan cara yang lebih cepat. Tapi, membaca dengan cara memindai ini tidak asal digunakan. Jika untuk keperluan untuk membaca buku teks, puisi, surat penting dari ahli hukum, dan sebagainya, perlu lebih detil membacanya.
Scanning atau membaca memindai berarti mencari informasi spesifik secara cepat dan akurat. Memindai artinya terbang di atas halaman-halaman buku. Membaca dengan teknik memindai artinya menyapu halaman buku untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Scanning berkaitan dengan menggerakan mata secara cepat keseluruh bagian halaman tertentu untuk mencari kata dan frasa tertentu.
Teknik membaca memindai (scanning) adalah teknik menemukan informasi dari bacaan secara cepat, dengan cara menyapu halaman demi halaman secara merata, kemudian ketika sampai pada bagian yang dibutuhkan, gerakan mata berhenti. Mata bergerak cepat, meloncat-loncat, dan tidak melihat kata demi kata. 

2. Langkah-langkah Scanning
  1. Perhatikan penggunaan urutan seperti ‘angka’, ‘huruf’, ‘langkah’, ‘pertama’, ‘kedua’, atau ‘selanjutnya’.
  2. Carilah kata yang dicetak tebal, miring atau yang dicetak berbeda dengan teks lainnya.
  3.  Terkadang penulis menempatkan kata kunci di batas paragraph
Langkah atau proses scanning yang lain yakni:
  • Menggerakkan mata seperti anak panah langsung meluncur ke bawah menemukan informasi yang telah ditetapkan,
  • Setelah ditemukan kecepatan diperlambat untuk menemukan keterangan lengkap dari informasi yang dicari, dan
  • Pembaca dituntut memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan karakteristik yang dibaca (misalnya, kamus disusun secara alfabetis dan ada keyword di setiap halaman bagian kanan atas, ensiklopedi disusun secara alfabetis dengan pembalikan untuk istilah yang terdiri dari dua kata, dan sebagainya).
2. Tujuan
Adapun tujuan dari membaca scanning yaitu:
  • Mencari informasi dalam buku secara cepat,
  • Scanning merupakan teknik membaca cepat untuk menemukan informasi yang telah ditentukan pembaca,
  • Pembaca telah menentukan kata yang dicari sebelum kegiatan scanning dilakukan, pembaca tidak membaca bagian lain dari teks kecuali informasi yang dicari.
  • Mendapatkan informasi spesifik dari sebuah teks. Biasanya, ini dilakukan jika Anda telah mengetahui dengan pasti apa yang Anda cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik.
2. Contoh
Membaca scanning/memindai misalnya membaca mencari arti kta di kamus, menbaca acara siaran di Telivisi, membaca daftar pejalanan, memcari nomor telepon di buku telepon,membaca daftar menu makan di rumah makan, membaca jadwal pelajaran,mencari pada papan pengumuman, mencari topik pada daftar isi sebuah buku dll

B. Membaca Skimming
2. Pengertian
Membaca-layap (skimming) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan. (Farida Rahim, 2005). Membaca layap dibutuhkan untuk mengetahui sudut pandang penulis tentang sesuatu, menemukan pola organisasi paragraf, dan menemukan gagasan umum dengan cepat (Mikulecky & Jeffries dalam Farida Rahim, 2005).
Pengertian lain dari membaca skimming adalah membaca sekilas atau membaca cepat untuk mendapatkan suatu informasi dari yang kita baca. Skimming dilakukan untuk melakukan pembacaan cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan. Dalam skimming, proses membaca dilakukan secara melompat-lompat dengan melihat pokok-pokok pikiran utama dalam bahan bacaan sambil memahami tema besarnya.
Selain untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah teks. Untuk mengetahui apakah suatu artikel sesuai dengan apa yang kita cari. Untuk menilai artikel tersebut, apakah menarik untuk dibaca lebih lanjut secara mendetail. Kecepatan membaca secara skimming biasanya sekitar 3-4 kali lebih cepat dari membaca biasa. 

2. Langkah-langkah Skimming
  • Baca judul, sub judul dan subheading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
  • Perhatikan ilustrasi (gambar atau foto) agar Anda mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut.
  • Baca awal dan akhir kalimat setiap paragraph
  • Jangan membaca kata per kata. Biarkan mata Anda melakukan skimming kulit luar sebuah teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
  • Lanjutkan dengan berpikir mengenai arti teks tersebut
2. Tujuan
Banyak yang mengartikan skimming sebagai sekedar menyapu halaman, sedangkan pengertian yang sebenarnya adalah suatu ketrampilan membaca yang diatur secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien, untuk berbagai tujuan, seperti hal berikut:
  • Untuk mengenali topik bacaan. Apabila anda pergi ke toko buku atau perpustakaan dan ingin mengetahui pembahasan apa dalam buku yang anda pilih itu, anda melakukan skimming beberapa menit (atau browsing). Skimming untuk melihat bahan yang akan dibaca, sekadar untuk mengetahui bahan tersebut, juga dilakukan orang untuk memilih artikel di majalah dan surat kabar (kliping)
  • Untuk mengetahui pendapat orang (opini). Disini anda sudah mengetahui topik yang dibahas, yang anda butuhkan adalah pendapat penulis itu terhadap masalah tersebut. Misalnya, tulisan tajuk surat kabar; anda mungkin cukup membaca paragraf pertama atau akhir yang biasanya memuat kesimpulan yang dibuat oleh penulisnya (redaksi).
  • Untuk mendapatkan bagian penting yang kita perlukan tanpa membaca seluruhnya. Anda perlu melihat semua bahan itu untuk memilih ide yang bagus, tetapi tidak membaca secara lengkap
2. Contoh
Skimming untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah halaman buku teks sehingga dapat memutuskan apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail.
no image
I. PENDAHULUAN
Manuia modern tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari media komunikasi. Salahsatu media komunikasi yang banyak dihadapi adalah media tulus baik buku teks maupun media massa. Setiap hari kita disuguhi banyak media massa., apalagi dalam era keterbukaan dan reformasi seperti saat ini. A[abila kita tidak menaruh perhatian pada media massa tersebut, pastilah kita akan tertinggal. Sebaliknya, apabila kita ingin membaca semua informasi tulis tersebut, pastilah banyak waktu tersita hanya untuk membaca. Untuk itu ketrampilan membaca dengan cepat dan efektif perlu dimiliki oleh semua pihak baik pelajar, mahasiswa, maupun manusia lain yang ingin terlibat secara aktif dalam percaturan kehidupan.

Ada berbagai jenis membaca dan masing-masing jenis mempunyai spesifikasi dan fungsi khusus. Untuk itu, jenis-jenis tersebut perlu dipahami sehingga kita dapat semakin meningkatkan kemampuam membaca baik kemampuan membaca cepat maupum kemampuan membaca efektif.

II. MEMBACA CEPAT
Yang dimaksud membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya. Apabila waktu bacanya semakin sedikit dan tingkat pemahamannya semakin tinggi, maka dikatakan bahwa kecepatan baca orang tersebut semakin meningkat.

Pada umumnya orang yang belum pernah mendapat latihan membaca pasti memiliki kecepatan baca yang lebih rendah dari kemampuannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kecepatan baca seseorang, antara lain
  • Kebiasaan lama yang telah mendarah daging seperti menggerakkan bibir untuk melafalkan, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, dan menggunakan jari atau benda untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
  • Tidak agresif (tidak bersemangat) dalama usaha memahami arti bacaan.
  • Persepsinya kurang sehingga lambat dalam menginterpretasikan apa yang dibacanya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan baca seseorang terhambat, antara lain
  1. Vokalisasi, yaitu membaca sambil bersuara atau mengucapkan kata demi kata yang dibacanya.
  2. Gerakan bibir pada waktu membaca baik bersuara mauapun tak bersuara.
  3. Gerakan kepala mengikuti kata-kata yang dibacanya.
  4. Menunjuk (dengan jari atau alat lain) kata-kata yang dibaca pada waktu membaca.
  5. Regresi, yaitu gerakan mata melihat kembali beberapa kata yang telah dibacanya.
  6. Subvokalisasi, yaitu melafalkan apa yang dibacanya dalam hati atau pikiran.
Untuk meningkatkan kecepatan baca kita, pertama-tama kita perlu mengukur kecepatan baca kita. Untuk itu perlu diadakan pengukuran kecepatan baca kita. Rumusnya :

(Jumlah kata yang dibaca dibagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60) dikalikan prosentase pemahaman. Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya. Pada umumnya kecepatan baca dapat dirinci sebagai berikut :
a. Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
  • mengenal bahan-bahan yang akan dibaca
  • mencari jawaban atas pertanyaan tertentu
  • mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari bacaan
b. Membaca dengan kecepatan tingngi (500 – 800 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
  • membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya
  • membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.
c. Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)
Biasanya digunakan untuk
  • membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif.
  • Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita.
d. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)
Biasanya digunakan untuk
  • membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.
  • Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan, atau membuat evaluasi ide penulis.
e. Membaca lambat (100 – 125 kpm)
Biasanya digunakan untuk
  • mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.
  • Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis
  • Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik
  • Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk)
III. MEMBACA PEMAHAMAN
Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca ntuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan
  1. mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami.
  2. Mengaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.
Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cendenrung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan terssebut menjadi efektif.
Ada beberapa sistem membaca, antara lain
  1. SQ3R : survey-question-read-recite-review
  2. SQ4R : survey-question-read-recite-rite-review
  3. POINT : purpose-overview-interpret-note-test
  4. OK4R : overview-key ideas-read-summarize-test
Salahsatu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu
1. SURVEI
Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan srvei adalah 
  • mempercepat menangkap arti 
  • mendapatkan abastrak 
  • mengetahui ide-ide penting 
  • melihan susunan (organisasi) bahan bacaan. 
  • Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan. 
  • Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. 
Ada beberapa teknik dalam melakukan survei. Untuk tiap jenis bacaan, teknik surveinya berbeda. 
Tekni survei buku 
  • telusuri daftar isinya
  • baca kata pengantar
  • lihat tabel, grafik
  • lihan apendiks
  • telusuri indeks 
Teknik survei bab 
  • lihat paragraf pertama dan terakhir
  • lihat ringkasan
  • lihat subjudul 
Teknik survei artikel 
  • baca judul
  • baca semua subjudul
  • amati tabel
  • baca pengantar
  • baca kalimat pertama subbab
  • buatlah keputusan (dibaca atau tidak) 
Teknik survei klipping 
  • perhatikan judul
  • perhatikan penulisnya
2. QUESTION
Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.
3. READ
Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.
4. RECITE/RECALL
Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya
5. REVIEW
Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.

Menemukan Ide Pokok Wacana
Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam
  • ikhtisar umum yang ada di awal buku
  • ikhtisar bab
  • ikhtisar bagian bab
  • ide pokok paragraf
Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salahsatu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan
  • ditulis cetak miring
  • digarisbawahi
  • dicetak tebal
  • dibubuhi angka-angka
  • ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)
Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain
  • ungkapan penekanan
  • kata yang mengubah arah
  • kata ilustrasi
  • kata tambahan
  • kata simpulan
IV. MEMBACA KRITIS
Membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Dengan demikian, pembca tidak sekedar membaca, melainkan juga berpikir tentang masalah yang dibahas. Hal yang harus diingat dalam membaca kritis adalah bahwa tidak semua yang ditulis itu benar.

Untuk itu kita harus mengikuti jalan pikiran penulis dengan cepat, akurat, dan kritis. Akurat artinya mampu membedakan hal yang relevan dan tidak relevan. Kritis artinya menerima pemikiran yang ditulis dengan dasar yang baik, logis, benar, dan realistis.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membaca kritis adalah
  • mengerti isi bacaan
  • menguji sumber penulisan
  • ada interaksi antara penulis dan pembaca.
  • Memutuskan :menerima atau menolak ide penulis
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap gagasan orang lain, kita perlu mengingat-ingat secara lebih seksama apa saja yang dikemukakan oleh penulis. Untuk itu, ingatan sangat penting. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar kita dapat mengingat lebih lama ddan lebih baik, yiatu
  1. hadapi bahan dengan tujuan
  2. survei apa saja yang perlu diingat
  3. cai fakta dan dapatkan dalam hubungannya dengana konteks
  4. kaitkan apa yang dibaca dengan yang telah diketahui.
  5. Perhatikan apa yang penting bagi Anda.
Dalam usaha menanggapi pendapata orang lain, kita tidak boleh melupakan hal-hal yang penting yang diungkapkan oleh penulis. Agar tidak terlupakan perlu dibuat sejumlah catatan dari bacaan yang kita baca. Pokok-pokok yang perlu dicatat antara lain
  • bagian-bagian kunci :ide pokok, masalah, informasi penting
  • asumsi penulis tentang segi tertentu
  • detail atau fakta yang kita perlukan
  • pokok-pokok yang menarik
Ada tiga jenis catatan, yaitu
  • catatan berupa koleksi fakta dan detail penting
  • catatan berupa kutipan kalimat, paragraf, kata kunci
  • catatan berupa ringkasan
V. SKIMMING DAN SCANNING
Skimming adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok bacaan. Scanning adalah cara membaca dengan cara melompat langsung ke sasaran yang dicari.
Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
  1. bagian yang telah diketahui dari buku lain
  2. bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
  3. bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
  4. bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
Yang dimaksud skimming adalah mencari hal-hal penting dari bacaaan. Fungsi skimming adalah
  1. untuk mengenali topik bacaan
  2. untuk mengetahui pendapat/opini orang
  3. untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
  4. untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.
  5. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.
Scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain. Scanning biasa digunakan untuk
  1. mencari nomor telepon
  2.  mencari kata pada kamus
  3. mencari eintri pada indeks
  4. mencari angka statistik
  5. melihat acara siaran televisi
  6. melihat daftar perjalanan
no image
A. Deskripsi Teoretis 
1. Hakikat Membaca 
merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai oleh setiap individu. Tarigan (2008: 7), membaca adalah proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui bahasa tulis. Somadyo (2011: 1), membaca merupakan kegiatan interaktif untuk memetik dan memahami makna yang terkandung dalam bahan tertulis. Lebih lanjut, dikatakan bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan dan digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis. Nuriadi (2008: 29), membaca adalah proses yang melibatkan aktivitas fisik dan mental. Salah satu aktivitas fisik dalam membaca adalah saat pembaca menggerakkan mata sepanjang baris-baris tulisan dalam sebuah teks bacaan. Membaca melibatkan aktivitas mental yang dapat menjamin pemerolehan pemahaman menjadi maksimal. Membaca bukan hanya sekadar menggerakkan bola mata dari margin kiri ke kanan tetapi jauh dari itu, yakni aktivitas berpikir untuk memahami tulisan demi tulisan. Menurut Harjasujana (1996: 5), membaca adalah kemampuan yang kompleks. Pembaca tidak hanya memandangi lambang-lambang tertulis semata, melainkan berupaya memahami makna lambang-lambang tertulis tersebut. Rahim (2008: 2), membaca adalah aktivitas rumit yang melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Subyantoro (2011: 9), membaca merupakan keterampilan yang lambat laun akan menjadi perilaku keseharian seseorang. Pembaca memiliki sikap tertentu, pada awal sebelum keterampilan membaca ini terbentuk. Berdasarkan pengertian membaca yang dipaparkan di atas, penulis sependapat dengan Tarigan, bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui bahasa tulis. Dengan membaca, pembaca memperoleh banyak manfaat. Manfaat tersebut, yaitu dapat memperluas pengetahuannya dan menggali pesanpesan tertulis yang terdapat dalam bahan bacaan.

2. Tujuan Membaca 
Kegiatan membaca bukan merupakan kegiatan yang tidak bertujuan. Menurut Ahuja (2010: 15), merumuskan sembilan alasan seseorang membaca. Alasan tersebut adalah sebagai berikut. 
  • Untuk tertawa. 
  • Untuk menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman sehari-hari. 
  • Untuk menikmati kehidupan emosional dengan orang lain. 
  • Untuk memuaskan kepenasaran, khususnya kenapa orang berbuat sesuatu dengan cara mereka. 
  • menikmati situasi dramatik seolah-olah mengalami sendiri. 
  • Untuk memperoleh informasi tentang dunia yang kita tempati 
  • Untuk merasakan kehadiran orang dan menikmati tempat-tempat yang belum pernah kita lihat.
  • Untuk mengetahui seberapa cerdas kita menebak dan memecahkan masalah dari pengarang. 
Menurut Anderson (via Tarigan, 2008: 9-11), terdapat 7 tujuan membaca. Ketujuh tujuan tersebut adalah sebagai berikut. 
  • Memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts). 
  • Memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas). 
  • Mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization). 
  • Membaca bertujuan untuk menyimpulkan isi yang terkandung dalam bacaan (reading for inference). 
  • Mengelompokkan atau mengklasifikasikan jenis bacaan (reading to classify). 
  • Menilai atau mengevaluasi isi wacana atau bacaan (reading to evaluate). 
  • Membandingkan atau mempertentangkan isi bacaan dengan kehidupan nyata (reading to compare or contrast). 
Berbagai tujuan membaca yang dikemukakan di atas, merupakan tujuantujuan yang bersifat khusus. Tujuan membaca secara umum adalah memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Dengan membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan.

3. Jenis-Jenis Membaca 
Ada beberapa jenis membaca yang dapat dilakukan oleh seseorang. Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca, proses membaca terbagi atas membaca nyaring dan membaca dalam hati. Tarigan (2008: 23), membaca nyaring adalah suatu aktivitas yang merupakan alat bagi guru, murid, atau pun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan pengarang. Membaca dalam hati adalah membaca dengan tidak bersuara. Lebih lanjut, dikatakan bahwa membaca dalam hati dapat dibagi menjadi dua, yaitu (1) membaca ekstensif dan (2) membaca intensif. Kedua jenis membaca ini, memiliki bagian-bagian tersendiri. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut. a. Membaca ekstensif adalah membaca sebanyak mungkin teks bacaan dalam waktu sesingkat mungkin (Tarigan, 2008: 32). Tujuan membaca ekstensif untuk memahami isi yang penting dengan cepat secara efisien. Membaca ekstensif meliputi, (1) membaca survai (survey reading), (2) membaca sekilas (skimming), dan (3) membaca dangkal (superficial reading). b. Membaca intensif (intensive reading) meliputi, membaca telaah isi dan telaah bahasa. Membaca telaah isi terbagi atas, (1) membaca teliti, (2) membaca pemahaman, (3) membaca kritis, dan (4) membaca ide (Tarigan, 2008: 40). Membaca telaah bahasa mencakup, membaca bahasa dan membaca sastra.

4. Kemampuan Membaca Pemahaman 
a. Pengertian Membaca Pemahaman 
Dalam membaca suatu teks bacaan, pembaca memerlukan pemahaman untuk dapat memperoleh informasi secara tepat. Yoakam via Ahuja (2010: 50), membaca pemahaman merupakan membaca dengan cara memahami materi bacaan yang melibatkan asosiasi (kaitan) yang benar antara makna dan lambang (simbol) kata, penilaian konteks makna yang diduga ada, pemilihan makna yang benar, organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca, penyimpanan gagasan, dan pemakaiannya dalam berbagai aktivitas sekarang atau mendatang. Somadyo (2011: 10), membaca pemahaman merupakan proses pemerolehan makna secara aktif dengan melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh pembaca serta dihubungkan dengan isi bacaan. Terdapat tiga hal pokok dalam membaca pemahaman, yaitu: 
  1. pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, 
  2. menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dengan teks yang akan dibaca, 
  3. proses pemerolehan makna secara aktif sesuai dengan pandangan yang dimiliki. 
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang dilakukan oleh seseorang untuk memahami isi bacaan secara menyeluruh. Membaca pemahaman dilakukan dengan menghubungkan skemata atau pengetahuan awal yang dimiliki pembaca dan pengetahuan baru yang diperoleh saat membaca, sehingga proses pemahaman terbangun secara maksimal.

b. Proses Membaca
Pemahaman Kehidupan dan pertumbuhan manusia senantiasa dipengaruhi oleh kegiatan belajar, karenanya hal tersebut perlu dikuasai melalui proses belajar. Begitu pula dengan kemampuan membaca. Menurut Harjasujana dan Mulyati (1996: 5), mengemukakan beberapa hal yang berkaitan dengan proses membaca, adalah sebagai berikut. 
1) Membaca sebagai suatu proses psikologis. Psikologis berkaitan dengan mental dan kejiwaan seseorang. Menurut Harjasujana dan Mulyati (1996: 6) hal-hal yang berkaitan dengan proses membaca, meliputi 
  • intelegensi, 
  • usia mental, 
  • jenis kelamin, 
  • tingkat sosial ekonomi, 
  • bahasa, 
  • ras, 
  • kepribadian, 
  • sikap, 
  • pertumbuhan fisik, 
  • kemampuan persepsi, dan 
  • tingkat kemampuan membaca. 
2) Membaca sebagai proses sensoris. 
Sensoris berkaitan dengan indera yang dimiliki oleh seseorang. Membaca tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa awalnya, membaca merupakan proses sensoris. Isyarat dan rangsangan kegiatan membaca, pertama-tama masuk melalui telinga dan mata, sedangkan rangsangan huruf Braille masuk melalui syaraf-syaraf jari (Harjasujana dan Mulyati, 1996: 13). 

3) Membaca sebagai proses perseptual. 
Harjasujana dan Mulyati (1996: 15) secara umum, persepsi dimulai dengan melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Dalam kegiatan membaca, pembaca cukup memperhatikan aspek penglihatan dan pendengaran. Persepsi umumnya mengandung stimulus, asosiasi makna, dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu, serta respon yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. 

4) Membaca sebagai proses perkembangan. Membaca merupakan proses perkembangan sepanjang hayat. Perkembangan tersebut tidak akan diketahui kapan dimulai dan diakhiri. Dua hal yang perlu diperhatikan guru dalam mencamkan bahwa membaca sebagai proses perkembangan, yaitu 
  • guru harus sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan dan bukan terjadi secara insidental dan 
  • meyakinkan bahwa membaca bukanlah suatu subjek melainkan suatu proses. 
5) Membaca sebagai proses perkembangan keterampilan. 
Dalam perkembangan keterampilan membaca, seorang pembaca harus mengenal tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan membaca. Menurut Harjasujana dan Mulyati (1996: 23), tahap-tahap keterampilan yang dapat dikembangkan anak dalam membaca, yaitu 
  • perkembangan konsep, 
  • pengenalan dan identifikasi, dan 
  • interpretasi mengenai informasi.
5. Jenis Membaca Pemahaman 
Membaca pemahaman pada dasarnya adalah suatu proses membaca untuk membangun pemahaman. Dalam proses membaca ini, pembaca menggunakan beberapa jenis pemahaman. Pemahaman tersebut adalah pemahaman literal, interpretasi, kritis, dan kreatif (Somadyo, 2011: 19). Berikut ini, penjelasan mengenai keempat jenis pemahaman tersebut
a. Pemahaman Literal 
Tingkatan membaca pemahaman yang pertama adalah pemahaman literal. Nurhadi (2010: 57), membaca literal adalah kemampuan mengenal dan menangkap bahan bacaan yang tertera secara tersurat (eksplisit). Artinya, pembaca hanya menangkap informasi yang tersurat atau tampak jelas dalam bahan bacaan. Pembaca tidak menangkap informasi yang tersirat dalam bahan bacaan. Unsur-unsur dalam keterampilan membaca literal menurut Nurhadi (2010: 58), antara lain sebagai berikut. 
  1. Keterampilan mengenal kata. 
  2. Keterampilan mengenal kalimat. 
  3. Keterampilan mengenal paragraf. 
  4. Keterampilan mengenal unsur detail. 
  5. Keterampilan mengenal unsur perbandingan.
  6. Keterampilan mengenal unsur urutan. 
  7. Keterampilan mengenal unsur hubungan sebab akibat. 
  8. Keterampilan menjawab pertanyaan: apa, siapa, kapan, dan di mana. 
  9. Keterampilan menyatakan kembali unsur perbandingan. 
  10. Keterampilan menyatakan kembali unsur urutan. 
  11. Keterampilan menyatakan kembali unsur sebab akibat. 
b. Pemahaman Interpretasi 
Tingkatan membaca pemahaman setelah pemahaman literal adalah pemahaman interpretasi. Menurut Smith (via Ahuja, 2010: 55), pemahaman interpretasi berkaitan dengan proses memperoleh makna implisit (tak langsung) terhadap sebuah teks.. Nuttall (via Somadyo, 2011: 22), membaca interpretatif adalah membaca antarbaris untuk membuat inferensi. Membaca interpretatif merupakan proses pelacakan gagasan yang disampaikan secara tidak langsung. Membaca ini meliputi pembuatan simpulan, misalnya tentang gagasan utama bacaan, hubungan sebab akibat, serta analisis bacaan seperti menemukan tujuan pengarang menulis bacaan, ringkasan isi bacaan, dan penginterpretasian bahasa figuratif. Kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca interpretasi adalah membaca untuk mengetahui gagasan, ide, atau informasi yang tersirat dalam bacaan. Informasi yang tersirat dalam bacaan, dapat berupa simpulan, menemukan gagasan utama, menemukan hubungan sebab-akibat, dan menganalisis bacaan. 

c. Pemahaman Kritis 
Tingkatan membaca pemahaman yang ketiga adalah kemampuan membaca kritis. Pembacanya disebut pembaca kritis. Menurut Nurhadi (2010: 59), kemampuan membaca kritis merupakan kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis yang berupaya untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat maupun makna tersirat, melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai. Seseorang dikatakan sebagai pembaca kritis apabila memiliki memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 
  1. Kegiatan membaca sepenuhnya melibatkan kemampuan berpikir kritis. 
  2. Tidak begitu saja menerima, apa yang dikatakan pengarang. 
  3. Membaca kritis adalah usaha mencari kebenaran yang hakiki. 
  4. Membaca kritis selalu terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan dalam bacaan. 
  5. Membaca kritis adalah mengolah bahan bacaan, bukan mengingat (menghafal). 
  6. Hasil membaca untuk diingat dan diterapkan, bukan untuk dilupakan. 
d. Pemahaman Kreatif 
Tingkatan pemahaman membaca yang terakhir adalah pemahaman kreatif. Kemampuan membaca kreatif merupakan tingkatan tertinggi dari kemampuan membaca seseorang. Menurut Nurhadi (2008: 60-61), dalam membaca kreatif, pembaca tidak hanya sekadar menangkap makna tersurat, makna antarbaris, dan makna di balik baris. Seseorang dikatakan memiliki pemahaman membaca kreatif jika dapat memenuhi kriteria sebagai berikut. 
  1. Kegiatan membaca tidak berhenti sampai pada saat menutup buku. 
  2. Mampu menerapkan hasil untuk kepentingan hidup sehari-hari. 
  3. Munculnya perubahan sikap dan tingkah laku setelah proses membaca selesai. 
  4. Hasil membaca berlaku sepanjang masa. 
  5. Mampu menilai secara kritis dan kreatif bahan-bahan bacaan, dan mampu memecahkan masalah kehidupan sehari-hari berdasarkan hasil bacaan yang telah dibaca. 
  6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Membaca Pemahaman Banyak faktor yang mempengaruhi proses membaca pemahaman. 
Berikut adalah beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca pemahaman yang dikemukakan oleh para ahli. Syafi’ie (via Somadyo, 2011: 27), faktor yang mempengaruhi proses pemahaman siswa terhadap bahan bacaan adalah penguasaan struktur wacana atau teks bacaan. Ahuja (2010: 70-71), faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi membaca mencakup dua hal, yaitu faktor internal dan lingkungan. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri pembaca. Faktor internal meliputi, kemampuan mendengar bunyi, cacat wicara, kebiasaan dalam membaca, dan tujuan membaca. Faktor lingkungan adalah faktor yang berasal dari luar diri pembaca. Faktor ini meliputi, penerangan atau pencahayaan, keterbacaan bahan bacaan, dan motivasi pembaca. Dari pendapat di atas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, penulis sependapat dengan pandangan Ahuja, bahwa faktorfaktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman seseorang terbagi menjadi dua yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam pembaca. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar pembaca. Faktor internal meliputi kesehatan fisik, kebiasaan dalam membaca, dan tujuan dalam membaca, sedangkan faktor eksternal, meliputi keterbacaan teks, dan motivasi pembaca. 

7. Tahap-Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Pemahaman 
Dalam pembelajaran membaca, guru hendaknya mendorong siswa untuk dapat memahami berbagai bahan bacaan. Menurut Rahim (2008: 99), ada tiga tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman. Ketiga tahapan membaca pemahaman tersebut adalah tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca.
a. Tahap Prabaca Rahim (2008: 99), kegiatan prabaca adalah kegiatan pengajaran yang dilaksanakan sebelum siswa melakukan kegiatan membaca. Fokus kegiatan pembelajaran pada tahap prabaca adalah untuk membangkitkan skemata siswa tentang topik atau materi sehingga siswa dapat menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Skemata adalah latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa tentang suatu informasi atau konsep tentang sesuatu. Skemata menggambarkan sekelompok konsep yang tersusun dalam diri seseorang yang dihubungkan dengan objek, tempat-tempat, tindakan, atau peristiwa. Nuriadi (2008: 47), prabaca merupakan sebuah teknik membaca yang memiliki tujuan menjadikan pembaca mengenal materi yang akan dibaca secara mendalam. Aktivitas membaca akan lebih mudah dilakukan dengan adanya gambaran awal sehingga sangat membantu pembaca. Dengan melakukan kegiatan prabaca, seseorang akan lebih cepat dalam memahami materi yang dibaca. 
b. Tahap Saat Baca Setelah melakukan kegiatan prabaca, tahap selanjutnya adalah tahap saat baca (during reading). Strategi yang dapat digunakan dalam tahap ini adalah menggunakan strategi metakognitif. Menurut Burns (via Rahim, 2008: 102), penggunaan strategi metakognitif secara efektif berpengaruh positif terhadap pemahaman. Lebih lanjut, dikatakan bahwa bagian dari proses metakognitif adalah memilih tipe tugas yang dibutuhkan untuk mencapai pemahaman. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya sendiri, pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut
  1. Apakah jawaban yang dibutuhkan terdapat dalam bahan bacaan? Jika ya, pembaca dapat mencari kata kunci untuk menemukan jawaban tersebut. 
  2. Apakah teks tersebut mengimplikasikan jawaban dengan memberikan petunjuk yang jelas atau jawaban berdasarkan fakta-fakta yang terdapat dalam bacaan, sehingga pembaca dapat menentukan jawaban yang sesuai. 
  3. Apakah jawaban berasal dari pengetahuan dan gagasan pembaca, yang berkaitan dengan cerita? Apabila ya, pembaca harus menghubungkan isi bacaan dengan pengetahuan yang dimiliki, sehingga mendapatkan jawaban yang sesuai.
c. Tahap Pascabaca Setelah melakukan kegiatan prabaca dan saat baca, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah tahap pascabaca. Burns (via Rahim, 2008: 105), kegiatan pascabaca digunakan untuk membantu siswa memadukan informasi baru yang dibacanya ke dalam skemata yang telah dimilikinya sehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Kegiatan pascabaca dapat dikembangkan dengan cara 
  1. siswa diberikan kesempatan menemukan informasi lanjutan tentang topik, 
  2. siswa diberikan sejumlah pertanyaan tentang isi bacaan, 
  3. siswa diberikan kesempatan mengorganisasikan materi yang akan dipresentasikan, dan 
  4. siswa diberikan kesempatan mengerjakan tugas-tugas untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan.
Ada beberapa taksonomi yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman. Salah satu taksonomi pembelajaran membaca pemahaman adalah taksonomi Ruddell. Ruddell mengklasifikasikan tujuh subketerampilan utama dari keterampilan komprehensi yang dapat digolongkan dalam tingkat komprehensi faktual, interpretif, dan aplikatif (Zuchdi, 2008: 100). Tingkatan faktual berkaitan dengan kemampuan pembaca dalam memahami informasi yang tersurat dalam wacana. Tingkatan interpretif berkaitan dengan kemampuan pembaca dalam memahami informasi yang tersirat, sedangkan tingkatan aplikatif berkaitan dengan kemampuan pembaca dalam menerapkan isi bacaan untuk menemukan apa yang dikatakan dan dimaksudkan oleh pengarang, dan bagaimana menggunakan ide-ide yang disampaikan pengarang dalam wacana. Ketujuh subketerampilan yang dikategorikan oleh Ruddell adalah sebagai berikut. 
  1. Kompetensi keterampilan ide-ide penjelas yang ada dalam bacaan, yaitu dengan melakukan identifikasi terhadap sejumlah ide, membandingkan ide yang satu dengan ide yang lain dalam bacaan atau menggolongkan ide-ide yang sama dan ide-ide yang berbeda yang ditemukan dalam bacaan. 
  2. Kompetensi keterampilan mengurutkan informasi dalam bacaan. Pada kompetensi keterampilan ini Ruddell membagi urutan komprehensi yang harus dikuasai oleh pembaca
  3. Kompetensi keterampilan menemukan hubungan sebab dan akibat berkaitan dengan kemampuan pembaca untuk menemukan hubungan sebab akibat dari teks yang dibaca, baik dengan menemukan hubungan sebab akibat secara langsung lewat informasi yang tersurat dalam teks maupun dengan mencari hubungan sebab akibat yang tersurat dalam teks yang dibaca maupun dengan informasi lain yang tidak tersurat dalam teks. 
  4. Kompetensi keterampilan menemukan ide-ide pokok berkaitan dengan kemampuan pembaca menentukan ide utama yang ditulis oleh penulis dalam teks yang dibaca. 
  5. Kompetensi memprediksi berkaitan dengan kemampuan pembaca untuk memprediksi atau mencoba mencari informasi yang mungkin merupakan hal utama, jawaban, atau permasalahan yang dikemukakan oleh penulis. 
  6. Kompetensi keterampilan menilai berkaitan dengan kemampuan pembaca untuk memberikan penilaian terhadap pribadi, identifikasi perwatakan, dan identifikasi motif pengarang. 
  7. Kompetensi keterampilan pemecahan masalah berkaitan dengan kemampuan pembaca menemukan alternatif pemecahan masalah setelah membaca teks. 
  8. Pelaksanaan Pembelajaran Membaca di Sekolah Dalam konteks implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga merupakan proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. 
Makna lain mengajar yang demikian, sering diistilahkan dengan pembelajaran (BP. Putra Bhakti Mandiri, 2008: 152). Pembelajaran dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan. Salah satu pembelajaran yang dilaksanakan di SMP adalah pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di SMP, menekankan pada kemampuan membaca dan menulis. Pada akhir pendidikan di SMP/MTs, peserta didik diharapkan telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan 3 buku nonsastra (BSNP, 2006: 1). Berdasarkan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII, standar kompetensi membaca yaitu memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara membaca, memahami isi berbagai teks bacaan dengan membaca, memahami wacana tulis melalui kegiatan membaca intensif dan membaca memindai, serta memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan buku cerita anak. Untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran membaca, guru harus memilih strategi yang tepat untuk mencapai tujuan belajar. Selain itu, guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, misalnya dengan menggunakan teknik dan media pembelajaran yang menarik siswa untuk mengikuti pembelajaran membaca dengan baik. 

10. Bahan Tes Kemampuan 
Membaca Tes kemampuan membaca bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami isi atau informasi yang terdapat dalam bacaan. Oleh karena itu, bacaan yang akan diujikan harus mengandung informasi yang menuntut untuk dipahami. Pemilihan bacaan atau wacana hendaknya mempertimbangkan segi tingkat kesulitan, panjang pendek, isi, dan jenis atau bentuk wacana (Nurgiyantoro, 2001: 249).
  1. Tingkat Kesulitan Wacana Nurgiyantoro (2001: 249) tingkat kesulitan suatu wacana ditentukan oleh kekompleksan kosakata dan struktur. Semakin sulit kedua aspek tersebut, maka akan semakin sulit wacana yang bersangkutan. Begitu pula sebaliknya. Jumlah atau tingkat kesulitan kosakata umumnya digunakan untuk menentukan tingkat kesulitan wacana. Tingkat kesulitan kosakata ditentukan oleh frekuensi pemunculannya. Kemudian, tingkat kesulitan wacana dilihat dari tingkat kesulitan dan jumlah kosakata yang digunakan. Misalnya, wacana dengan tingkat kesulitan 250, 400, 700, atau 1.400 kata. 
  2. Isi Wacana Nurgiyantoro (2001: 250), bacaan yang baik adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa, minat, kebutuhan, atau menarik perhatian siswa. Isi wacana hendaknya mempertimbangkan tingkat kematangan siswa. Isi wacana dapat berupa pengembangan sikap dan nilai-nilai pada diri siswa. 
  3. Panjang Pendek Wacana Menurut Nurgiyantoro (2001: 251) wacana yang diteskan atau diujikan sebaiknya tidak terlalu panjang. Beberapa wacana yang pendek, lebih baik daripada sebuah wacana yang panjang. Sepuluh butir soal yang diteskan dari 3 atau 4 wacana lebih baik daripada hanya dari sebuah wacana yang panjang. Dengan wacana yang pendek, dapat dibuat soal tentang berbagai hal. Wacana pendek tersebut dapat berupa satu atau dua alinea, atau kira-kira sebanyak 50 sampai 100 kata.
  4. Bentuk-bentuk Wacana Bentuk-bentuk wacana yang dapat dijadikan sebagai bahan tes kemampuan membaca yaitu dapat berupa wacana berbentuk prosa (narasi), dialog (drama), ataupun puisi (Nurgiyantoro, 2001: 251). Wacana yang paling umum digunakan oleh orang adalah wacana berbentuk prosa. Ketiga bentuk wacana tersebut sama-sama efektif apabila digunakan dengan cara yang tepat. 
  • Wacana Bentuk Prosa Nurgiyantoro (2001: 252), bahan yang dapat disajikan dalam tes wacana berbentuk prosa dapat berupa karya fiksi atau nonfiksi, dapat dikutip dari buku-buku karya sastra, buku literatur, buku pelajaran, majalah, jurnal, surat kabar, dan sebagainya. Pemilihan wacana berbentuk prosa didasarkan pada tiga kriteria yakni, tingkat kesulitan, isi, dan panjang pendek. 
  • Wacana Bentuk Dialog Nurgiyantoro (2001: 252), wacana berbentuk dialog dapat berupa kutipan suatu naskah drama. Wacana ini dekat sekali dengan bahasa lisan yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat. Wacana untuk tes kemampuan membaca terdiri dari beberapa potong dialog yang lebih panjang. 
  • Wacana Bentuk Puisi Nurgiyantoro (2001: 252), wacana berbentuk puisi lebih sulit dipahami dibandingkan dengan wacana berbentuk prosa. Wacana berbentuk puisi yang diteskan dapat berupa puisi yang sederhana, baik dari segi isi maupun bahasanya. Secara umum, puisi untuk tes pemahaman bacaan hendaknya tidak terlalu abstrak sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan perbedaan pemahaman.
B. Penelitian yang Relevan 
1. Nur Kadarsih (2010), dalam penelitiannya berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Strategi Pemetaan Makna di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Pundong. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), sehingga penelitian yang dilakukan oleh Nur Kadarsih berbeda dengan penelitian yang menggunakan pendekatan survai. Penelitian tindakan Kelas (PTK) ini, dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus 1 sebanyak 5 kali pertemuan, dan siklus 2 sebanyak 3 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran membaca pemahaman dengan strategi pemetaan makna, mampu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Pundong. Hasil tes membuktikan adanya peningkatan skor rerata dari pratindakan dan pascatindakan siklus 1 dan 2. Skor rerata pratindakan sebesar 56.67 menjadi 70.74 atau meningkat sebesar 14.07 (24.83%) pada siklus 1. Pada siklus 2 skor rerata meningkat menjadi 80.15 atau meningkat sebesar 9.41 (13.30%). 2. Deni Damayanti (2010), dalam penelitiannya berjudul “ Keefektifan Prosedur Bertanya dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Komprehensi Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen control group pretest-posstest design, sehingga berbeda dengan penelitian survai. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang positif dan signifikan, antara kemampuan membaca siswa yang diajarkan menggunakan prosedur bertanya dengan siswa yang diajarkan dengan tanpa menggunakan prosedur bertanya. Nilai rerata tes awal (pretest) kelompok eksperimen 16.25 27 dan rerata tes akhir (posstest) sebesar 21.11 yang berarti, meningkat 4.86%. Kelas kontrol tes awal (pretest) 16.67 dan tes akhir (posstest) meningkat menjadi 19.53 yang berarti, meningkat 2.68%. 3. Nurhadi (2011), dalam jurnal penelitiannya berjudul “Budaya Baca Siswa SMP di Era Internet”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Kategori deskriptif kuantitatif yang digunakan adalah, deskriptif kuantitatif analisis status untuk menjawab masalah dan deskriptif kuantitatif dengan korelasi, sehingga penelitian ini berbeda dengan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survai. Hasil penelitian ditemukan bahwa rata-rata kecepatan membaca siswa SMP di Kodya Malang adalah 216 kata permenit, dengan tingkat pemahaman 60.4%. 4. St. Y. Slamet (2006) dalam jurnal penelitiannya berjudul “Kemampuan Membaca Pemahaman Mahasiswa Ditinjau dari Penguasaan Diksi dan Kompetensi Semantik Sebuah Survai di Program Studi PGSD UNS”. Penelitian ini merupakan penelitian survai dengan korelasi, sehingga berbeda dengan penelitian deskriptif kuantitatif melalui metode survai. Survai dengan korelasi menunjukkan ada atau tidak hubungan antara penguasaan diksi dan kompetensi semantik dengan kemampuan membaca pemahaman. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara penguasaan diksi dan kompetensi semantik dengan kemampuan membaca pemahaman mahasiswa.

C. Kerangka Pikir 
Membaca merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap individu. Dengan membaca, seseorang akan mengetahui banyak informasi dari belahan dunia mana pun. Pembaca yang baik adalah pembaca yang tidak hanya sekedar membaca saja, melainkan dapat memahami dan menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis dalam bacaan yang dihadapinya. Dengan demikian, membaca dalam pengertian ini akan berkaitan dengan membaca pemahaman. Kemampuan membaca pemahaman siswa kurang diperhatikan oleh guru. Masalah siswa dalam pembelajaran membaca karena kurangnya penguasaan siswa terhadap kosakata, kurangnya kemampuan siswa dalam menangkap gagasan utama suatu paragraf, ide pokok, ide penjelas, bahkan strategi, teknik, dan media pembelajaran membaca pemahaman yang diterapkan oleh guru. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya upaya peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa. Sebelum guru meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami suatu bacaan, perlu terlebih dahulu diketahui sejauh mana tingkat kemampuan siswanya dalam membaca pemahaman. Maka dari itu, perlu diadakan penelitian survai untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP di Kota Yogyakarta. Hasil yang akan diperoleh dari penelitian survai tentang kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP di Kota Yogyakarta akan menjadi acuan guru atau peneliti lain dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP di Kota Yogyakarta. Peningkatan tersebut mungkin saja dilakukan 29 dengan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat, teknik yang sesuai, ataupun media pembelajaran yang efektif, sehingga diharapkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP di Kota Yogyakarta dapat meningkat, baik dari segi proses maupun hasil pembelajaran.